.

Total Tayangan Laman

WARNINGGGG !!!!!!!!!!!!!! Jangan DiCopas (Copy Paste) Ya..Hanya Untuk Dijadikan Referensi Aja Ya Mas & Mba Broo...Awas Hindari Tu Yang Namanya Copy Paste

Digital clock

Sabtu, 01 Desember 2012

MANAJEMEN PERMODALAN / PEMBELANJAAN KOPERASI


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Istilah manajemen dalam perkembangannya digunakan untuk mengendalikan suatu organisasi. Jadi, berpikir secara manajemen dapat diartikan sebagai mengendalikan, mengarahkan dan memanfaatkan segala faktor atau sumber daya yang dimiliki untuk tujuan tertentu  Sedangakan pengertian koperasi menurut Undang-Undang koperasi No.12 Tahun 1967 mendefinisikan  koperasi sebagai organisasi ekonomi, berwatak sosial, dan dikelola berdasarkan kekeluargaan.
Dari kedua pengertian manajemen dan koperasi di atas maka dapat disimpulkan, Manajemen koperasi dapat diartikan mengendalikan, mengarahkan dan memanfaatkan segala sumber daya yang ada untuk tujuan memajukan atau mensejahterakan para anggota dan pengurus koperasi. ditinjau dari sudut pandang gaya manajemen (managment style), manajemen koperasi menganut gaya partisipatif (participation management), di mana posisi anggota ditempatkan sebagai subjek dan manajemen yang aktif dalam mengendalikan manajemen perusahaannya.
Setelah kita tahu pengertian, unsur-unsur dan pentingnya manajemen koperasi tentu kita perlu tau manajemen-manajemen yang ada dalam koperasiSeperti Manajemen SDM/Personalia, Manajemen Pemasaran dan Manajemen Pembelanjaan. Sebenarnya masih ada beberapa manajemen lagi seperti Manajemen Tri Partite, Manajemen Komunikasi, dll.
Tetapi dalam makalah ini kami hanya akan membahas mengenai manajemen pembelanjaan koperasi.









B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat dibuat rumusan masalah yang berkaitan dengan manajemen pembelanjaan koperasi yaitu :

1.      Apakahdefinisi pembelanjaan koperasi ?
2.      Bagaimanakah bentuk pembelanjaan internal koperasi ?
3.      Bagaimanakah bentuk pembelanjaan eksternal koperasi ?
4.      Apa saja yang menjadi modal sendiri koperasi ?
5.      Apa saja yang menjadi modal asing pada koperasi ?
6.      Bagaimana cara mengatasi permodalan koperasi ?
7.      Bagaimanakah bentuk pemanfaatan modal asing ?

C.    Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini antara lain :
1.      Untuk mengetahui tentang materi yang bersangkutan.
2.      Sebagai referensi belajar bagi mahasiswa, khususnya kelompok penyaji.
3.      Untuk memenuhi salah satu tugas kelompok dari mata kuliah yang bersangkutan.
4.      Sebagai bahan presentasi kelompok penyaji.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Pembelanjaan koperasi
Dilihat dari strukur koperasi, masalah pembelanjaan merupakan bagian dari sistem yang dianut oleh koperasi itu sendiri yang bersumber pada dua hal yang berkaitan yaitu :

1.      Pelanggan koperasi yang merupakan para anggota dan sekaligus sebagai pemilik koperasi (prisip identitas)
2.      Sendi dasar dan asas koperasi Indonesia yang membedakn koperasi dengan badan usaha lainnya.

Dalam pembelanjaan bisa debedakan menjadi lima macam yaitu pembelanjaan internal koperasi, modal sendiri koperasi, pembelanjaan eksternal koperasi, modal asing pada koperasi dan cara mengatasi permodalan koperasi. Pembelanjaan internal koperasi meliputi pembelanjaan aktif menyangkut bagaimana usaha penggunaan yang dimiliki agar bisa efisien sedangkan pembelanjaan pasif menyangkut bagaimana caranya untuk mencari dana dengan seefisien mungkin. dalam pembelanjaan aktif tentunya jangan sampai ada dana yang menganngur terlalu besar karena akan mengakibatkan ketidak efisienan dari segi biaya bunga tetapi juga jangan sampai ada kekuarangan dana agar tidak mempersempit kesempatan memperoleh laba. Bila besarnya pembelanjaan aktif dan pembelanjaan pasif seimbang maka keadaan keuangan perusahaan menunjukan suatu pembelanjaan yang efisien.









B.     Pembelanjaan Internal Koperasi
Pembelanjaan merupakan salah satu fungsi yang penting dalam menjalankan roda perusahaan. Secara umum (luas), pembelanjaan dapat diartikan sebagai semua aktivitas perusahaan untuk mencari atau memperoleh dana yang dibutuhkan dan menggunakannya secara efisien. Oleh karena itu, masalah pembelanjaan dapat dibedakan menjadi dua yaitu masalah pembelanjaan pasif dan aktif. Pembelanjaan aktif menyangkut usaha menggunakan dana yang dimiliki dengan cara yang seefisien mungkin. Dalam penggunaannya jangan sampai ada dana yang menganggur terlalu besar, sehingga tidak efisien dari segi biaya bunga. Disamping itu juga jangan sampai ada kekurangan dana sehingga kesempa-tan memperoleh laba menjadi hilang atau direbut oleh pesaing. Pembelanjaan pasif meliputi usaha atau aktivitas perusahaan untuk mencari dana yang dibutuhkan dengan cara seefisien mungkin. Di sini berarti bahwa modal yang akan digunakan harus diperoleh dengan biaya yang serendah mungkin dan sesuai dengan kebutuhan. Bila besarnya pembelanjaan aktif dan pembelanjaan psif seimbang, maka keadaan keuangan perusahaan menunjukkan suatu pembelanjaan yang efisien.
Dilihat dari segi pembelanjaan pasif, sumber modal dapat dibedakan menjadi dua, yaitu modal ekstenal (dari luar koperasi) dan modal internal. Pembelanjan dari dari dalam atau intern merupakan usaha yang dilakukan dengan efisien agar pemenuhan kebutuhan dana guna membiayai operasi perusahaan dapat dipenuhi dari sumber dalam perusahaan sendiri.
Suatu bagian yang besar dari modal internal koperasi, yaitu yang berasal dari bagian SHU yang tidak dibagikan kepada anggota dan dimasukkan sebagai cadangan. Jumlah ini akan kumulatif dengan modal yang sudah ada, sehingga modal koperasi semakin lama semakin besar. Salah satu bentuk modal internalialah mengintensifkan dana yang sementara menganggur seperti dana cadangan penyusutan aktiva. Sebelum modal tersebut digunakan untuk menambah modal kerja atau untuk membeli mesin pengganti yang disusutkan, maka model pemupukan modal pembelanjaan seperti ini disebut pembelanjaan intensif.
Pada gambar berikut akan disajikan mekanisme permodalan koperasi baik modal dari luar (pinjaman) maupun dari dalam koperasi.





SIMPANAN ANGGOTA

DANA CADANGAN

DONASI

   MODAL SENDIRI


                                  
S H U
USAHA KOPERASI




SIMPANAN SUKARELA

HUTANG / PINJAMAN

PENYERTAAN
           MODAL
        PINJAMAN


C.    Pembelanjaan Eksternal Koperasi
Pembelanjaan eksternal koperasi atau pembelanjaan dari luar adalah usaha pemenuhan kebutuhan dana dari sumber luar perusahaan di mana jenisnya cukup bervariasi. Di sini manajemen harus pandai memilih sumber dana yang murah dan mudah. Mudah berate syrat-syaratnya mudah dipenuhi dan resikonya kecil. Sedangkan murah berate harga kredit tersebut, seperti biaya bunga dan lain-lain sampai digunakan benar-benar murah.
Modal eksternal koperasi dapat diperoleh dari beberapa sumber berikut:

1.      Pinjaman dari perbankan, apakah itu bank pasar atau bank umum, bank swasta ataupun bank-bank pemerintah. Sesuai dengan Inpres No. Tahun 1978, bank-bank pemerintah mendapat tugas untuk ikut serta membantu kebutuhan dana yang diperlukan oleh koperasi dengan beberapa kemudahan.
2.      Pinjaman dari Induk Koperasi, Gabungan Koperasi, dan dari Pusat Koperasi untuk koperasi primernya merupakan sumber uang yang murah.
3.      Pinjaman dari pembeli, penjual, dan sejawat koperasi baik dalam bentuk barang maupun uangt tunai.
4.      Pinjaman dari lembaga keuangan lainnya, seperti dari perusahaan leasing, perusahaan asuransi, perusahaan modal ventura, dsb.
5.      Pinjaman dari perusahaan swasta (yang besar) dan bersedia membantu sebagai bapak angkat atau anak asuh.
6.      Pinjaman dalam bentuk uang atau saham dari BUMN dan BUMS yang besar, maupun pemberian fasilitas usaha atau kemudahan-kemudahan usaha.
7.      Penerbitan obligasi.
8.      Pinjaman dari sumber lainnya yang mungkin dapat digali oleh koperasi misal-nya pada pasal 42 (penyertaan modal).

Biasanya modal eksternal ini disebut juga sebagai modal asing atau kredit pinjaman sehingga keberadaannya di koperasi hanya bersifat sementara sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Pihak peminjam berkewajiban membayar sejumlah bunga sebagai imbalan atas penggunaan fasilitas / modal tersebut. Bagi koperasi pakah pinjaman ini akan menguntungkan atau tidak sangat tergantung dari tinggi rendahnya bunga yang harus dibayarnya.

D.    Modal Sendiri Koperasi
Modal sendiri dapat diklasifikasikan sebagi modal internal. Sifat dari jenis dana ini  adalah tertanam untuk jangka waktu yang tidak terbatas . Sepanjang koperasi masih hidup, jenis modal ini pasti ada walaupun jumlahnya dapat berubah naik atau turun.
Jenis-jenis modal sendiri koperasi akan diuraikan berikut ini:
1.      Simpanan-simpanan
Simpanan-simpanan yaitu simpanan pokok dan simpanan wajib dari para anggota (pemilik). Simpanan pokok dan simpanan wajib ini akan semakin besar jumlahnya apabila terjadi pertambahan anggota dan ini berarti modal koperasi menjadi semakin banyak pula. Namun apabila ada anggota yang keluar maka simpanan anggota yang akan  keluar ersebut dapat ditaik kembali sehingga menyebabkan modal koperasi berkurang.

2.      Sisa hasil usaha yang tidak dibagikan (ditanam kembali dalam koperasi) dan cadangan-cadangan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha.
Sesuai dengan Kep. Men. Kop. No. 266/V/KPTS/1987 tentang pedoman pembagian SHU koperasi, pasal-pasal yang menjelaskan tentang hal itu adalah sebagai beri-kut:
Pasal 1 : SHU yang dibagi adalah SHU yang berasal dari pendapatan tunai dan  pembayarannya hanya dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan keuangan koperasi, serta tidak boleh mengganggu likuiditas atau kelancaran jalannya usaha perusahaan koperasi.
Pasal 2 : Pada ayat 3 dijelaskan bahwa SHU yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk anggota dan akan dibagikan sebagai cadangan minimal harus harus 40%. Namun bila SHU yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk nonanggota akan dibagi sebagai cadangan, besarnya minimal 75%.



3.      Hibah
Hibah adalah sejumlah uang atau barang modal yang dapat dinilai dengan uang yang diterima dari pihak lain yang bersifat hibah/pemberian dan tidak mengikat.
Hibah adalah pemberian yang diterima koperasi dari pihak lain, berupa uang atau barang. Hibah muncul sebagai komponen modal sendiri disebabkan karena pengalaman banyak koperasi menerima hibah, terutama dari pemerintah. Maksud ketentuan hibah dalam UU adalah agar koperasi dapat memeliharanya dengan baik dan dicatat dalam neraca pos modal sendiri.
Koperasi yang menerima hibah harta tetap seperti peralatan atau mesin diwajibkan melakukan penyusutan, sehingga pada saatnya koperasi dapat membeli yang baru. Ketentuan tersebut dianggap berlebihan, karena hibah seharusnya ditentukan oleh perjanjian antara penerima dan pemberi hibah, termasuk persyaratan yang disepakati. Status dan perlakukan akuntansi disesuaikan dengan perjanjian tersebut.
Karena hibah merupakan kejadian biasa yang sering terjadi dalam dunia usaha, dan untuk waktu mendatang mungkin tidak banyak lagi, maka ketentuan tentang hibah seharusnya tidak perlu dicantumkan dalam UU. Hibah yang diterima koperasi cukup diatur dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hibah yang diterima koperasi memang harus disyukuri, tetapi terkesan bahwa koperasi bermental peminta-minta hibah dan seharusnya dihindarkan.

4.      Simpanan wajib yang dikaitkan dengan hasil usaha atau sering disebut simpanan wajib khusus.
Sebenarnya simpanan ini merupakan jenis simpanan yang tidak mempunyai peraturan atau dengan kata lain tergantung pada kebijakan masing-masing pengurus koperasi dalam mengantisipasi kebutuhan modal usaha. Hal ini bertujuan agar para anggota lebih berperan aktif dalam memupuk modal seban-ding dengan transaksi atau jasa yang diberikan kepada koperasi atau oleh koperasi kepada anggota. Di sini berarti bahwa bagi anggota yang menjumpai volume transaksi yang besar, akan mempunyai simpanan wajib khusus yang besar pula.


5.      Simpanan sukarela
Simpanan sukarela adalah simpanan yang dilakukan oleh pemilik mana dia secara sukarela menitipkan sejumlah uang kepada koperasi untuk digunakan atau untuk membantu anggota lainnya yang sangat membutuhkan. Walaupun jenis simpanan ini berasal dari anggota, namun bila ditinjau dari segi waktu simpanan tersebut hanya bersifat sementara sehingga berfungsi sebagai hutang dan dapat ditarik kembali oleh pemiliknya sesuai dengan pejanjian. Untuk memperbesar jenis simpanan ini maka salah satu upaya yang dapat direalisasi adalah dengan memberikan kompensasi yang menarik bagi para penyimpan.

E.     Modal Asing pada Koperasi
Modal asing adalah sejumlah modal yang digunakan oleh perusahaan koperasi yang berasal dari luar koperasi. Karena modal ini bersifat sementara,  maka keberadaan-nya dalam koperasi hanya jika diundang atau kalau diperlukan saja. Disini pemilik modal menanamkan modalnya ke koperasi dengan harapan memperoleh penghasilan, yaitu bungan atas modal yang dipinjamkannya. Jenis modal ini ada yang berasal dari anggota sendiri dan ada juga yang berasal dari nonanggota.
Manajer dan pengurus koperasi dituntut untuk menggunakan modal jenis ini secara efektif sesuai dengan kebutuhan. Apabila penggunaan modal ini tidak menghasilkan SHU dengan persentase yang lebih tinggi dibanding bunag kredit yang harus dibayar, maka penggunaan modal asing tersebut tidak menguntungkan dan untuk selanjutnya koperasi lebih baik tidak menggunakan modal ini. Sesuai dengan teori , modal asing modal asing akan menguntungkan apabila tercapai keadaan :


Pada kondisi sekarang masih banyak kesempatan bagi koperasi untuk memperoleh kredit lunak, yaitu kredit kredit yang diberikan oleh pemerintah dalam rangka pembinaan dan pengembangan perkoperasian di Indonesia.
Fasilitas kredit lunak itu antara lain:
1)      KUT atau Kredit Usaha Tani yang diberikan untuk keperluan membiayai pengolahan lahan atau untuk pembelian bibit dan keperluan produksi.
2)      Kredit PIR rosella, PIR tebu, perkebunan-pekebunan, petenakan, dan sebagainya.
3)      Kredit pembelian jeuk, cengkeh dll.
4)      Kredit untuk pengolahan pasca panen, bagi nelayan, pengrajin dll.
5)      Kredit yang bersumber dari BUMN , yaitu keuntungan perusahaan Negara yang yang disisihkan untuk membantu permodalan koperasi.
6)      Kredit yang diberikan secara khusus, seperti pelistrikan desa dan perumahan buruh ?/ karyawan pabrik yang kecil serta golongan ekonomi lemah lainnya yang dirasakan mendesak.
7)      Jenis kredit produktifitas yang diberikan kepada pengusaha kecil anggota koperasi, seperti kerajinan, nelayan kecil, angkutan umum, dan sebagainya.

F.     Cara Mengatasi Permodalan Koperasi

Walaupun dalam prakteknya tidak semua koperasi mengalami kekurangan modal, namun dalam menghadapi semakin besarnya usaha dan semakin berkembangnya kegiatan yang ditangani sebagian besar koperasi di Indonesia jelas membutuhkan dukungan modal yang lebih besar lagi. Guna memenuhi kebutuhan dana yang semakin besar tersebut, maka berikut ini ditawarkan beberapa peluang untuk menggali potensi yang ada pada koperasi.

1.      Simpanan Pokok
Bagi setiap anggota, besarnya simpanan pokok adalah sama besar. Walaupun modal yang besar belum pasti memberikan sesuatu yang baik, namun semakin besar modal koperasi yang bersal dari simpanan pokok apabila jumlah anggota bertambah, maka semakin terbuka kesempatan untuk mengejar omzet usaha yang lebih besar lagi.

2.      Simpanan Wajib
Simpanan wajib yang dimaksudkan di sini identik dengan simpanan pokok, yaitu semakin besar jumlah anggota semakin besar jumlah modal dari simpanan wajib. Jumlah simpanan wajib setiap bulannya harus disesuaikan setelah lebih dari lima tahun berjalan atau lebih dari dua periode kepengurusan.

3.      Simpanan Wajib Khusus (SWK)
Apabila ada transaksi usaha yang dilakukan oleh anggota kepada koperasi, maka anggota bersangkutan dapat diminta untuk memberikan simpanan wajib khusus, dimana hal ini akan memperbesar modal koperasi. Manfaat dan fungsi SWK harus benar-benar dijelaskan, yaitu sebagai sarana untuk memperbesar modal sendiri.

4.      Sisa Hasil Usaha (SHU)
Modal sendiri yang berasal dari SHU yang tidak dibagi kepada para anggota jumlahnya tergantung pada besar kecilnya SHU yang diperoleh setiap tahunnya. Keuntungan yang tidak dibagi akan disisihkan sebagai cadangan guna memperbesar modal sehingga selanjutnya dapat diperoleh SHU yang lebih besar. Modal jenis ini termasuk sebagai modal yang murah dan tanpa menanggung risiko yang besar, karena modal tersebut adalah modal internal modal sendiri dan tidak membayar bunga.

5.      Dana Cadangan
Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan Sisa Hasil usaha, yang dimaksudkan untuk pemupukan modal sendiri, pembagian kepada anggota yang keluar dari keanggotaan koperasi, dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan. Dana cadangan diperoleh dan dikumpulkan dari penyisihan sebagian sisa hasil usaha (SHU) tiap tahun, dengan maksud jika sewaktu-waktu diperlukan untuk menutup kerugian dan keperluan memupuk permodalan. Posisi dana cadangan dalam sisi pasiva menunjukkan bahwa jika terjadi kerugian dengan sendirinya akan terkompensasi dengan dana cadangan, dan apabila tidak mencukupi ditambah dengan.simpanan. Dapat dimengerti adanya ketentuan dalam hukum dagang bahwa jika kerugian suatu perusahaan mencapai lebih dari setengah modalnya wajib diumumkan. Karena modal perusahaan sudah berkurang dan beresiko.
Pemupukan dana cadangan koperasi dilakukan secara terus-menerus berdasar prosentase tertentu dari SHU, sehingga bertambah setiap tahun tanpa batas. Jika koperasi menerima fasilitas pemerintah, ditentukan bahwa prosentasi penyisihan dana cadangan semakin besar. Dana cadangan sering lebih besar jumlahnya dibanding simpanan anggota. Apabila dana cadangan menjadi sangat besar dan simpanan anggota tetap kecil, maka koperasi tidak ubahnya seperti perusahaan bersama atau mutual company (onderling; perusahaan tanpa pemilik). Ada yang berpendapat bahwa memang mutual company merupakan bentuk akhir dari koperasi, yang tentu bukan menjadi tujuannya. Dilihat dari tujuan dana cadangan untuk menutup kerugian, jumlah dana cadangan dapat dibatasi sampai jumlah tertentu sesuai keperluan. Misalnya disusun sampai mencapai sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah modal koperasi. Sebelum mencapai jumlah tersebut penggunaannya dibatasi hanya untuk menutup kerugian. Setelah tercapai jumlah tersebut dapat ditambah sesuai dengan kepentingan koperasi.
Ada pendapat di kalangan koperasi bahwa dana cadangan merupakan modal sosial, bukan milik anggota dan tidak boleh dibagikan kepada anggota sekalipun dalam keadaan koperasi dibubarkan. Sebenarnya tidak tepat ada larangan penggunaan dana cadangan termasuk untuk dibagikan kepada anggota, sepanjang tidak melanggar batas minimumnya. Misalnya pada saat koperasi mengalami kerugian dalam tahun buku tertentu, tetapi ingin membagikan SHU kepada anggota dengan pertimbangan tidak merugikan usaha koperasi dan melanggar ketentuan tentang dana cadangan.

6.      Simpanan Khusus/Lain-Lain
a.       Simpanan sukarela simpanan yang dapat diambil kapan saja.
b.      Simpanan Qurba
c.       Deposito Berjangka








G.    Pemanfaatan Modal Asing

Modal asing sangat bermanfaat bila dapat meningkatkan rentabilitas usaha bagi koperasi, atau persentase rentabilitas lebih tinggi dari persentase suku bunga.
1.      Kredit penjual
2.      Kredit pembeli

Apabila barang dijual koperasi bermutu baik dan banyak diminta oleh konsumen sedangkan barang tersebut sulit dicari di pasar, maka pembelibdapat membayar atau memesan lebih dulu dengan sejumlah uang muka, atau bahkan dengan jumlah uang muka seharga barang yang akan dibeli. Jadi uang muka atau pembayaran lebih dulu sebesar harga barang tersebut sebelum barangnya diambil merupakan pinjaman dana dari pembeli kepada koperasi dan biasanya disebut kredit pembeli.

3.      Simpanan sukarela dari anggota
Jenis ini merupakan penunjang yang cukup baik untuk modal. Walaupun simpanan ini bersifat sementara, namun fungsinya besar sekali dalam mendukung keperluan modal koperasi. Dalam pengumpulannya sangat tergantung pada kesa-daran para anggota untuk menyimpan di koperasi. Simpanan ini merupakan perwujudan dari cara beribadah lewat menabung di koperasi, karena dapat membantu orang lain yang membutuhkan, seperti bantuan sosial, bantuan perbaikan jalan, dsb.

4.      Model bapak angkat atau anak asuh
Koperasi tidak perlu malu – malu mencari bapak angkat karena dengan itu maka koperasi dapat memanfaatkan kredit lunak dari bapak angkatnya, asal dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Persyaratan tersebut antara lain barang yang dihasilkan koperasi harus memenuhi kualitas seperti yang dikendaki oleh bapak angkatnya.

5.      Kredit atau dana
Kredit atau dana yang tercipta dengan adanya sistem perekonomian itu sendiri, misalnya dana yang disediakan oleh pusat koperasi, gabungan koperasi, perum PKK, atau induk koperasi. Disini ada bank khusus yang melayani kredit bagi koperasi (Bukopin). Dalam pelaksanaannya harus ada pengawasan yang dinamis, jangan sampai disalah gunakan yaitu bukannya dari koperasi,oleh koperasi, tetapi untuk pelaksana, atau untuk pesaing koperasi

6.      Cara pembelanjaan modern.
Jenis pembelanjaan modern saat ini cukup banyak ditawarkan dipasar, yaitu misalnya dengan leasing (sewa guna usaha). Leasing adalah system sewa beli alat – alat produksi, dan mempunyai hak untuk membeli apabila masa sewa telah berakhir. Cara ini lebih murah, dan lebih banyak mendatangkan manfaat secara finansial (keuangan) bagi koperasi dimana kepastiannya perlu juga dinilai oleh manajer, serta secara ekonomis dengan pertimbangan yang lainnya.

Dari pembahasan mengenai manajemen modal pinjaman dapat disimpulkan bahwa pinjaman adalah bersifat pendukung. Pinjaman diperlukan apabila modal sendiri yang dimiliki belum mencukupi dan dirasakan penggunaan modal pinjaman bermanfaat bagi koperasi, yaitu:
1.      Dapat menimbulkan penghematan – penghematan
2.      Tidak terlalu banyak campur tangan pihak luar, termasuk pihak pemerintah dan koperasi sekunder atau bapak angkat.
3.      Bunga pinjaman lebih kecil dari tingkat SHU yang diperolehnya.
4.      Penggunaan pinjaman tersebut benar – benar dapat dirasakan oleh anggota, yaitu dapat meningkatkan kesejahteraan mereka masing – masing atau kelompok.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam pembelanjaan bisa debedakan menjadi lima macam yaitu pembelanjaan internal koperasi, modal sendiri koperasi, pembelanjaan eksternal koperasi, modal asing pada koperasi dan cara mengatasi permodalan koperasi. Pembelanjaan internal koperasi meliputi pembelanjaan aktif menyangkut bagaimana usaha penggunaan yang dimiliki agar bisa efisien sedangkan pembelanjaan pasif menyangkut bagaimana caranya untuk mencari dana dengan seefisien mungkin. dalam pembelanjaan aktif tentunya jangan sampai ada dana yang menganggur terlalu besar karena akan mengakibatkan ketidak efisienan dari segi biaya bunga tetapi juga jangan sampai ada kekuarangan dana agar tidak mempersempit kesempatan memperoleh laba. Bila besarnya pembelanjaan aktif dan pembelanjaan pasif seimbang maka keadaan keuangan perusahaan menunjukan suatu pembelanjaan yang efisien
Salah satu kunci sukses koperasi adalah mampu menjalankan manajemen pembelanjaan koperasi dengan baik dan terorganisir sehingga koperasi mampu bertahan dalam kondisi apapaun, termasuk krisis. Karena yang menjadi pokok pembahasan dalam manajemen pembelanjaan koperasi ini adalah mengenai pembelanjaan dan modal koperasi yang menjadi sendi penting pembangunan koperasi. Oleh karenanya, pemberian pemahaman mengenai manajemen pembelanjaan koperasi dibutuhkan agar generasi muda penerus bangsa mampu meneruskan pengembangan koperasi.


B.     Saran
Melalui makalah ini kami menyarankan kepada beberapa pihak  terkaiyt masalah koperasi yaitu :

1.      Bagi mahasiswa
Kami menyarankan kepada rekan-rekan mahasiswa apabila nantinya rekan-rekan mahasiswa terjun ke dunia usaha termasuk koperasi agar mampu menerapkan apa yang terdapat dalam konsep makalah ini terutama dengan pelaksanaan kegiatan administrasi dan manajemen karena dengan dua hal tersebut jalannya usaha koperasi dapat berjalan dengan lancar.

2.      Bagi pemerintah
Sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan dunia perkoperasian di Indonesia terutama dengan pemberian modal  mengingat koperasi merupakan soko guru perekonomian Indonesia dan merupakan alat pemberdayaan ekonomi rakyat.
















DAFTAR PUSTAKA
ozzyzone.blogspot.com/.../manajemen-pembelanjaan-koperasi.html
ukiransejarahhidup.blogspot.com/2010/01/manajemen-koperasi.html
sukamdiyo, Ignatius. 1992. Manajemen Koperasi. Jakarta : Erlangga


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar