.

Total Tayangan Laman

WARNINGGGG !!!!!!!!!!!!!! Jangan DiCopas (Copy Paste) Ya..Hanya Untuk Dijadikan Referensi Aja Ya Mas & Mba Broo...Awas Hindari Tu Yang Namanya Copy Paste

Digital clock

Minggu, 02 Desember 2012

MAKALAH PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI DALAM PROSES PEMBANGUNAN


MAKALAH
PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI DALAM PROSES PEMBANGUNAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok Mata Kuliah Ekonomi Pembangunan


DI SUSUN OLEH : KELOMPOK 3
*      HARIS KURNIAWAN
*      MASTURI
*      ERNAWATY
*      RINI WULANDARI
*      SITI HARDIANTI
*      SITI AKMAL SARY

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SAMAWA SUMBAWA BESAR
TAHUN AKADEMIK 2011 / 2012


KATA PENGANTAR
Dengan memanjat puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberi Rahmat dan ridha-Nya, sehingga penyusun makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tanpa hambatan apa apun.
Dalam penyusun makalah ini, penyusun telah mendapatkan bimbingan dan bantuan dari beberapa pihak. Oleh karena itu melalui kesempatan ini penyusun menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada segenap pihak yang telah membantu dalam proses peyusunan makalah ini sampai berakhir seperti sekarang ini.
Makalah ini disusun dengan maksud untuk memenuhi tugas semester ganjil pada mata kuliah “EKONOMI PEMBANGUNAN”, demi tercapainya standar kelulusan bagi mata kuliah ini.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penyusun mengharapkan keritk dan saran dari pembaca dan dosen pembimbing sangat diharapkan demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan pelajaran dan pendidikan, khususnya bagi penyusun dan juga pembaca.

                                                                           Sumbawa Besar,   Maret 2012
                                                                                                  

                                                                                           Penyusun






DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
A.    Latar Belakang..................................................................................................... 1      
B.     Rumusan Masalah................................................................................................ 2
C.     Tujuan.................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................ 3
A.    Perubahan Sumbangan Berbagai Sektor Dalam Menciptakan
Produksi Nasional................................................................................................ 3
B.     Perubahan Struktur Penggunaan Tenaga Kerja di Berbagai Sektor............... 7
C.     Perubahan Struktur Sektor Industri dan Jasa jasa.............................. 10
D.    Perubahan Struktur Industri Menurut Analisa Chenery.................................... 14
E.     Perubahan Struktur Perekonomian Negara- negara Berkembang...................... 20
BAB III PENUTUP.................................................................................................... 26
A.    Kesimpulan.......................................................................................................... 26
B.     Saran.................................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Struktur ekonomi akan mengalami perubahan dalam proses pembangu­nan ekonomi, sudah lama disadari oleh ahli-ahli ekonomi. Tulisan A.G.B. Fisher dalam International Labour Review pada tahun 1935 telah mengemuka­kan pendapat bahwa berbagai negara dapat dibedakan berdasarkan kepada per­sentasi tenaga kerja yang berada di sektor primer, sekunder dan tertier. Pen­dapat ini dibuktikan oleh Clark yang telah mengumpulkan data statistik me­ngenai persentasi tenaga kerja yang bekerja; di sektor primer, sekunder dan tertier di beberapa negara. Data yang dikumpulkannya itu menunjukkan bahwa makin tinggi pendapatan per kapita sesuatu negara, makin kecil peranan sektor pertanian dalam menyediakan kesempatan kerja. Akan tetapi sebaliknya, sektor industri makin penting peranannya dalam menampung tenaga kerja.
Kuznets, Chenery dan beberapa penulis lainnya mengadakan penyelidi­kan lebih lanjut mengenai perubahan struktur ekonomi dalam proses pembangu­nan. Kuznets bukan saja menyelidiki tentang perubahan persentasi penduduk yang berkerja di berbagai sektor dan sub-sektor dalam pernbangunan ekonomi, akan tetapi juga menunjukkan perubahan sumbangan berbagai sektor kepada produksi nasional dalam proses tersebut. Sedangkan Chenery mengkhususkan analisanya kepada menunjukkan corak perubahan sumbangan berbagai sektor dan industri-industri dalam sub-sektor industri pengolahan kepada produksi na­sional.
Dalam pembahasan ini terutama akan diuraikan garis besar dari analisa kedua-dua ahli ekonomi itu untuk menunjukkan ciri-ciri dari perubahan struktur ekonomi dalam proses pembangunan. Salah satu studi yang paling akhir mengenai berbagai aspek dari pembangu­nan ekonomi di negara-negara berkembang, yang dilakukan sebagai salah satu proyek penvelidikan Bank Dunia, adalah penyelidikan yang dipimpin oleh Chenery dan Syrquin. Mereka bukan saja menyelidiki corak perubahan peranan berbagai sektor dalam proses pem­bangunan negara-negara berkembang, tetapi juga perubahan beberapa hal lain­nya yang penting artinya dalam analisa mengenai persoalan-persoalan pembangu­nan ekonomi negara-negara itu.



B.     Rumusan Masalah
berdasarkan pemaparan latar belakang di atas maka rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah Perubahan Sumbangan Berbagai Sektor Dalam Menciptakan Produksi Nasional ?
2.      Bagaimanakah Perubahan Struktur Penggunaan Tenaga Kerja di Berbagai Sektor ?
3.      Bagaimanakah Perubahan Struktur Sektor Industri dan Jasa jasa ?
4.      Bagaimanakah Perubahan Struktur Industri Menurut Analisa Chenery ?
5.      Bagaimanakah Perubahan Struktur Perekonomian Negara- negara Berkembang ?

C.    Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini antara lain :
1.      Untuk mengetahui tentang materi yang bersangkutan.
2.      Sebagai referensi belajar bagi mahasiswa, khususnya kelompok penyaji.
3.      Untuk memenuhi salah satu tugas kelompok dari mata kuliah yang bersangkutan.
4.      Sebagai bahan presentasi kelompok penyaji.


















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Perubahan Sumbangan Berbagai Sektor Dalam Menciptakan Produksi Nasional
Untuk mengetahui bagaimana corak perubahan dalam struktur ekonomi da­lam perkembangan ekonomi pada masa yang lalu, Kuznets mengumpulkan data mengenai sumbangan berbagai sektor kepada produksi nasional di tigabelas ne­gara yang sekarang ini termasuk dalam golongan negara-negara maju. Data yang dikumpulkannya tersebut, dalam bentuk yang telah disederhanakan, dapat di­lihat dalam Tabe1 1 berikut ini. Dalam tabel 1 itu ditunjukkan perubahan sumbangan sektor pertanian, industri dan jasa-jasa kepada produksi nasional di tigabelas negara maju sejak abad yang lalu hingga pada pertengahan abad ini. Berdasarkan kepada data tersebut, Kuznets membuat kesimpulan berikut mengenai corak perubahan persentasi sumbangan berbagai sektor dalam pembangunan ekonomi :

1.      Sumbangan sektor pertanian kepada produksi nasional telah menurun di dua­belas dari tigabelas negara yang terdapat dalam tabel itu.
Umumnya pada taraf permulaan dari pembangunan ekonomi, peranan sektor itu mendekati setengah dan adakalanya mencapai sampai hampir duapertiga dari seluruh produksi nasional. Pada akhir dari masa yang diobservasi, peranan sector pertanian dalam menghasilkan produksi nasional hanya mencapai 20 persen atau kurang di kebanyakan negara, dan di beberapa negara peranannya lebih rendah dari 10 persen. Dengan demikian, dalam proses pembangunan, sektor pertanian peranannya telah menurun paling sedikit sebesar 20 persen point (misalnya dari mula-mula menyumbangkan 50 persen, sekarang hanya men­capai 30 persen saja, maka dikatakanlah bahwa peranannya telah menurun sebanyak 20 persen point) dan adakalanya sampai mencapai 30 persen point. Satu-satunya kekecualian dari keadaan ini adalah perubahan yang terjadi di Australia; dalam delapan dasawarsa peranan sektor pertanian bertambah be­sar, walaupun dalam jangka masa itu kemajuan ekonorninya terus menerus berlangsung.

http://www.sylabus.web44.net/pembangunanfile/kuliah7_files/image001.png

2.      Peranan sektor industri dalam menghasilkan produksi na­sional meningkat.
Pada tahun-tahun permulaan dari masa yang, diobservasi sumbangan sektor tersebut berkisar di antara 20 sampai 30 persen dari se­luruh produksi nasional. Pada akhir masa yang diobservasi, peranannya paling sedikit meningkat sebesar 20 persen point sehingga sektor tersebut pada akhirnya menyumbangkan di antara 40 dan adakalanya lebilh 50 persen.
3.      Sektor jasa-jasa sumbangannya dalam menciptakan produksi nasional tidak mengalami perubahan yang berarti dan perubahan itu tidak konsisten sifatnya.
Di Swedia peranannya menurun; di negara lain ada yang peranannya meningkat; dan pada kebanyakan negara perubahannya tidak be­gitu nyata. Oleh sebab itu dapatlah disimpulkan bahwa pada umumnya pe­nurunan dalam peranan sektor pertanian dalam menciptakan produksi nasio­nal diimbangi oleh kenaikan yang hampir sama besarnya dalam peranan sek­tor industri. Hal ini menyebabkan peranan sektor jasa-jasa tidak mengalami perubahan yang berarti.
Perubahan struktur ekonomi yang coraknya seperti yang digambarkan di atas berarti bahwa :
a)      Sektor pertanian produksinya mengalami perkembangan yang lebih lambat dari perkembangan produksi nasional; sedangkan
b)      Tingkat per­tambahan produksi sektor industri adalah lebih cepat daripada tingkat pertam­bahan produksi nasional; dan
c)      Tidak adanya perubahan dalam peranan sek­tor jasa-jasa dalam produksi nasional berarti bahwa tingkat perkembangan sek­tor jasa-jasa adalah sama dengan tingkat perkembangan produksi nasional.

Peru­bahan struktur ekonomi yang demikian coraknya disebabkan oleh beberapa fak­tor antara lain :
a)      Sifat manusia dalam kegiatan konsumsi
Keadaan yang demikian disebabkan oleh sifat manusia dalam ke­giatan konsumsinya, yaitu apabila pendapatan naik, elastisitas permintaan yang diakibatkan oleh perubahan pendapatan (income elasticity of demand) adalah rendah untuk konsumsi atas bahan-bahan makanan. Sedangkan permintaan ter­hadap bahan-bahan pakaian, perumahan dan barang-barang konsumsi hasil in­dustri keadaannya adalah sebaliknya. Sifat permintaan masyarakat yang seper­ti ini telah lama ditunjukkan oleh Engels, dan oleh sebab itu debut sebagai hukum Engels. Pada hakekatnya teori ini mengatakan bahwa makin tinggi pen­dapatan masyarakat, maka akan makin sedikit proporsi pendapatan yang diguna­kan kan untuk membeli bahan pertanian. Akan tetapi sebaliknya, proporsi penda­patan yang digunakan untuk membeli produksi barang-barang industri menjadi bertambah besar.
Jadi hukum Engels mengatakan bahwa makin tinggi pendapatan masyarakat, maka akan makin sedikit proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli bahan pertanian, sedangkan proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli produksi barang-barang industri menjadi bertambah besar.

b)      Perubahan teknologi
Perubahan struktur ekonomi seperti yang digambarkan di atas dise­babkan pula oleh perubahan teknologi yang terus menerus berlangsung. Peruba­han teknologi yang terjadi dalam proses pembangunan akan menimbulkan pe­rubahan struktur produksi yang bersifat compulsory dan inducive.
Kemajuan teknologi akan rnampertinggi produktivitas kegiatan-kegiatan eko­nomi dan hal yang terakhir ini selanjutnya akan memperluas pasar serta kegiatan perdagangan. Perubahan-perubahan seperti ini akan menimbulkan keperluan untuk menghasilkan barang-barang baru. Dalam masyarakat perlu diciptakan beberapa jenis barang-barang dan jasa-jasa yang pada umumnya tidak diperlukan dalam kehidupan di desa-desa dan dalam masyarakat tertutup, yang kegiatan ekonominya ditujukan untuk memenuhi keperluan sendiri. Barang-barang dan jasa-jasa yang demikian sifatnya antara lain adalah kegiatan-kegiatan memproses bahan makanan yang diperuntukkan bagi konsumsi penduduk di kota-kota be­sar, jasa-jasa pengangkutan dan distribusi untuk memasarkan hasil-hasil industri, kegiatan memasarkan hasil-hasil produksi dan berbagai kegiatan lainnya yang pada umumnya tidak terdapat apabila perekonomian merupakan perekonomian yang cukup sendiri atau self sufficient.        Demikian pula industrialisasi, urbanisasi, dan pengembangan kota yang selalu mengikuti proses pembangunan ekonomi memerlukan perumahan yang lebih baik, jaringan pengangkutan dan perhubungan yang lebih sempurna dan admi­nistrasi pemerintahan yang lebih luas, untuk menjamin agar kehidupan di kota­kota dan kegiatan ekonomi yang semakin bertambah kompleks dapat berjalan dengan teratur. Barang-barang dan jasa-jasa di atas merupakan benda-benda yang harus diciptakan untuk memenuhi keperluan-keperluan masyarakat yang baru, yang timbul sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan pembangunan ekonomi. Oleh sebab itu, perubahan seperti itu dinamakan perubahan dalam struktur pro­duksi nasional yang bersifat compulsory.
Kemajuan teknologi menyebabkan pula perubahan dalam struktur produksi nasional yang bersifat inducive, yaitu kemajuan tersebut menciptakan barang­-barang baru yang menambah pilihan barang-barang yang dapat dikonsumsikan masyarakat. Perbaikan dalam alat peng«ngkutan menyebabkan digantikannya kereta kuda dengan kereta api, mobil dan kendaraan modern lainnya; hiburan yang bersifat tradisionil digantikan dengan radio, televisi dan filem. Untuk jenis­jenis barang yang sama, seperti pakaian dan keperluan-keperluan rumahtangga lainnya, kemajuan teknologi menciptakan barang barang yang lebih bermacam ragam dan mutunya juga bertambah tinggi. Perubahan-perubahan ini akan men­dorong masyarakat untuk mengunakan lebih banyak barang-barang seperti itu, dan hal itu selanjutnya menyebabkan peranan produksi barang-barang industri dalam produksi nasional menjadi bertambah penting.
Akhirya, makin pentingnya peranan produksi industri dalam produksi nasio­nal disebabkan oleh karena negara-negara maju yang mengalami pembangunan tersebut telah memperoleh keuntungan berbanding (comparative advantage) da­lam menghasilkan barang-barang industri; sedangkan daerah-daerah yang seka­rang tergolong sebagai negara-negara berkembang yang sampai bahagian pertama abad ini banyak yang merupakan daerah jajahan dari beberapa negara-negara maju memperoleh keuntungan berbanding dalam menghasilkan barang-barang pertanian. Maka sebagai akibat dari kegiatan perdagangan di antara kedua-dua golongan negara tersebut, yaitu negara-negara maju mengimport hasil-basil per­tanian dan selanjutnya mengeksport barang-barang industri ke daerah-daerah kurang maju, peranan sektor industri dalam menghasilkan produksi nasional menjadi bertambah penting di negara-negara yang lebih maju. Adanya perda­gangan di antara negara-negara yang lebih mqaju dengan negara-negara berkem­bang menyebabkan produksi industri bertambah tinggi dan produksi pertanian dapat dikurangi di negara-negara maju.

B.     Perubahan Struktur Penggunaan Tenaga Kerja di Berbagai Sektor
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai corak perubahan dari proporsi tenaga kerja yang digunakan di sektor pertanian, industri dan jasa-jasa dalam proses pembangunan, Kuznets telah mengumpulkan data dari 14 ne­gara pada berbagai masa sejak abad yang lalu hingga pada atau sesudah Perang Dunia Kedua. Sebahagian besar daripadanya merupakan negara-negara yang ter­dapat dalam Tabel sebelumnya.
Data yang dikumpulkan oleh Kuznets, dalam bentuk yang telah disederhanakan, ditunjukkan dalam Tabel 2. Berdasarkan kepada data tersebut dapat dibuat beberapa kesimpulan berikut mengenai perubahan proporsi tenaga kerja yang mencari nafkahnya di berbagai sektor dalam proses pembangunan ekonomi :
  1. Peranan sektor pertanian dalam menyediakan kesempatan kerja menurun di tiap-tiap negara, termasuk di Australia.
Di beberapa negara penurunannya sangat besar sekali. Pada permulaan masa yang diobservasi, di beberapa negara (Amerika Serikat, Jepang dan Russia) peranan sektor pertanian dalam me­nyediakan kesempatan kerja melebihi duapertiga dari seluruh tenaga kerja. Akan tetapi pada umumnya sektor tersebut menampung di antara seperempat sampai setengah dari tenaga kerja yang ada. Pada akhir masa yang diobservasi, di kebanyakan negara peranannya adalah di bawah 20 persen. Ini berarti bahwa peranannya mengalami penurunan sebesar kurang lebih 20 hingga di sekitar 50 persen point.
  1. Peranan sektor industri dalam menyediakan kesempatan kerja menjadi ber­tarnbah penting, akan tetapi kenaikan tersebut secara relatif adalah sangat kecil.
Di Perancis, Swiss, Belgia, Negeri Belanda, Italia dan Australia peranan­nya meningkat hanya sebesar beberapa persen point. Yang mengalami per­kembangan yang relatif besar,yaitu kurang lebih sama besarnya atau lebih be­sar daripada perubahan relatif dari surnbangan sektor ini kepada produksi nasional, hanyalah lnggris, Swedia, Jepang dan Russia,
TABEL 2
Persentasi Tenaga Kerja di Sektor Pertanian, Industri dan Jasa-Jasa Sejak Abad Yang Lalu di Empat belas Negara
http://www.sylabus.web44.net/pembangunanfile/kuliah7_files/image002.png

  1. Peranan sektor jasa-jasa dalam menyediakan kesempatan kerja tidak menga­lami banyak perubahan di Inggris, Belgia, Negeri Belanda, Swedia dan Austra­lia. Tetapi di negara-negara lainnya, peranannya mengalami kenaikan relatif yang sangat besar sekali; seperti dapat diperhatikan dari keadaan di Swiss, Denmark, Norwegia, Italia, Amerika Serikat, Kanada, Jepang dan Russia. Kalau dibandingkan dengan perubahan peranan sektor jasa jasa dalam meng­hasilkan produksi nasional, maka dapatlah dikatakan bahwa perubahan pera­nan sektor ini dalam menyediakan kesempatan kerja adalah sangat besar.
Demikianlah sifat-sifat dari perubahan peranan sektor-sektor pertanian, in­dustri dan jasa jasa dalam menyediakan kesempatan kerja. Apabila dibandingkan di antara perubahan peranan masing-masing sektor dalam menciptakan produksi nasional dengan perubahan peranan mereka dalam menampung tenaga kerja, gambaran yang terdapat dalam Tabel 1 dan Tabel 2 menunjukkan bahwa perubahan relatif dari kedua-dua hal itu mempunyai sifat yang agak berbeda. Di sektor pertanian, secara relatif, perubahan yang terjadi dalam sumbangan sektor itu dalam menciptakan produksi nasional adalah hampir bersamaan de­ngan perubahan peranannya dalam menyediakan pekerjaan. Di sektor industri perubahan relatif dari peranannya dalam menciptakan produksi nasional adalah lebih besar daripada perubahan relatif peranannya dalam menampung tenaga kerja. Dan di sektor jasa-jasa perubahan relatif dari peranannya dalam mencipta­kan produksi nasional adalah lebih kecil daripada perubahan relatif dari peranan­nya dalam menampung tenaga kerja.
Terdapatnya perbedaan-perbedaan di atas disebabkan oleh perbedaan dalam perkembangan tingkat produktivitas di masing-masing sektor dalam proses pem­bangunan. Dalam keadaan di mana tingkat produktivitas pada sesuatu sektor mengalami perkembangan yang sama dengan perkembangan produktivitas rata­rata yang terjadi dalam keseluruhan perekonomian, maka perubahan relatif pera­nan sektor itu dalam menciptakan produksi nasional akan sama besarnya dengan perubahan relatifnya dalam menampung tenaga kerja. Dengan demikian, dari sifat perubahan relatif yang telah terjadi di sektor pertanian, dapatlah disimpul­kan bahwa pada masa lalu perbaikan tingkat produktivitas sektor pertanian ada­lah sama lajunya dengan perkembangan produktivitas rata-rata dari keseluruhan perekonomian. Dan dari perubahan yang telah terjadi dalam sektor industri di­negara-negara yang terdapat dalam Tabel 1 dan Tabel 2 dapat pula disim­pulkan bahwa, di sektor industri perubahan relatif dari sumbangannya dalam menciptakan produksi nasional adalah lebih besar daripada perubahan relatif dari peranannya dalam menampung tenaga kerja. Ini berarti tingkat produkti­vitas di sektor industri berkembang dengan lebih cepat daripada perkembangan tingkat produktivitas dari keseluruhan perekonomian. Di sektor jasa jasa per­kembangan yang terjadi adalah sebaliknya dari yang terjadi dalarn sektor industri; dengan demikian di sektor jasa-jasa tingkat produktivitas berkembang­nya lebih lambat daripada perkembangan tingkat produktivitas rata-rata yang di­capai oleh keseluruhan perekonomian.
Faktor yang Menyebabkan Pola Perubahan yang Berbeda Pada perubahan peranan masing-masing sektor dalam menciptakan produksi nasional dengan peranan mereka dalam menampung tenaga kerja mempunyai sifat yang berbeda, yaitu :
a)      Di sektor pertanian, secara relatif, perubahan yang terjadi dalam menciptakan produksi nasional adalah hampir bersamaan dengan perubahan peranannya dalam menyediakan pekerjaan.
b)      Di sektor industri, perubahan relatif dari peranannya dalam menciptakan produksi nasional adalah lebih besar daripada perubahan relatif peranannya dalam menampung tenaga kerja.
c)      Di sektor jasa, perubahan relatif dari peranannya dalam menciptakan produksi nasional adalah lebih kecil dari perubahan relatif perananya dalam menampung tenaga kerja.

C.    Perubahan Struktur Sektor Industri dan Jasa jasa
Selanjutnya Kuznets menganalisa pula perubahan peranan berbagai sub-sektor industri, berbagai jenis industri dalam sub-sektor industri pengolahan dan sektor jasa-jasa dalam menciptakan produksi nasional maupun dalam menyediakan ke­sempatan kerja. Dalam bahagian ini akan disingkatkan kesimpulan-kesimpulan penting dari hasil analisa Kuznets tersebut.
Untuk menganalisa perubahan dari peranan berbagai sub-sektor industri da­lam menciptakan pendapatan nasional dianalisa data dari enam negara, sedangkan untuk menganalisa perubahan dari peranan berbagai sub-sektor industri da­lam menampung tenaga kerja digunakan data dari-sebelas negara. Dalam ana­lisanya Kuznets membedakan sektor industri menjadi 4 sub-sektor, yaitu pertambangan, industri pengolahan (manufacturing), industri bangunan, dan perhu­bungan dan pengangkutan. Perubahan peranan berbagai sub-sektor dalam sector industri dalam menghasilkan produksi nasional dan menciptakan kesempatan kerja, sifat-sifat pokoknya adalah sebagai berikut:
  1. Pada tingkat pembangunan yang rendah, sub-sektor pertambangan padaumum­nya selalu merupakan sub-sektor industri yang kecil peranannya dalam menciptakan produksi nasional dan menampung tenaga kerja. Dalam proses pembangunan peranan tersebut menjadi bertambah kecil lagi. Sub-sektor in­dustri bangunan juga mengalami perubahan yang sama sifatnya dengan sub­sektorpertambangan,yaitu di kebanyakan negara yang diobservasi peranan­nya dalam menciptakan produksi sektor industri dan menampung_ tenaga kerja menjadi bertambah kecil apabila tingkat pembangunan ekonomi ber­tambah tinggi.
  2. Sub-sektor industri pengolaharr, yang meliputi juga industri tenaga (penye­diaan air dan listrik), peranannya dalam menciptakan produksi sektor industri dam menampung tenaga keija pada umumnya menjadi bertambah besar apabi­la tingkat pemhangunan ekonomi menjadi bertambah tinggi. tlanya di dua negara yang datanya dikumpulkan, yaitu di Norwegia dan Italia, peranannya dalam menciptakan produksi sektor industri menurun. Dalam menampung tenaga kerja, peranan sub-sektor industri pengolahan hanya mengalami penu­runun di empat dad sebelas negara yang diobservasi, y~utu di Inggris, Swiss, Italia dan Jepang. Dari uraian yang terdahulu mengenai peranan sektor indus­tri dalam menciptakan produksi nasional dan menampung tenaga kerja telah dapat dilihat bahwa peranannya meningkat. Dalam sektor industri itu sendiri peranan sub-sektor industri pengolahan, pada urnumnya, mengalami kenaikan pula dalam menghasilkan produksi sektor industri dan menyediakan kesem­patan kerja. Dari keadaan ini Kuznets menyimpulkan bahwa sub-sektor in­dustri pengolahan merupakan suatu sektor dalam kegiatan ekonomi yang mengalami perkembangan yang pesat sekali dalam proses pembangunan.
  3. Perubahan peranan sub-sektor perhubungan dan pengangkutan dalam men­ciptakan produksi sektor industri dan menampung tenaga kerja tidak menun­jukkan pola yang seragam. Peranannya dalam menciptakan produksi sektor industri menurun di dua negara, yaitu di Inggris dan Amerika Serikat, dan tetap di satu negara yaitu Swedia. Di tiga negara lain, yaitu Norwegia, Italia dan Australia peranannya meningkat.
  4. Untuk Amerika Serikat dan Australia, Kuznets bukan saja menghitung peru­bahan peranan berbagai sub-sektor industri berdasarkan kepada harga pasar yang berlaku dari masa ke masa, tetapi juga berdasarkan kepada harga tetap. Analisanya yang belakangan ini antara lain menunjukkan bahwa peranan sub­sektor perhubungan dan pengangkutan dalam keseluruhan produksi sektor industri menurut harga-harga tetap telah menjadi bertambah besar. Apabila tingkat harga-harga dianggap tetap, di Amerika Serikat sub-sektor perhubung­an dan pengangkutan menciptakan 14 persen dari keseluruhan produksi sek­tor industri pada tahun 1869-78, dan meningkat menjadi 25 persen pada tahun 1939-48. Di Australia, juga apabila tingkat harga-harga dianggap tetap, kenaikan peranan sektor itu adalah dari menciptakan 4 persen dari produksi sektor industri pada tahun 1861-65 menjadi 21 persen pada tahun 1934-38. Dari keadaan ini Kuznets berkesimpulan bahwa, pertama, biaya pengangku­tan dan perhubungan mengalami penurunan yang besar sekali sejak abad yang lalu. Berarti, efisiensi sektor ini mengalami perbaikan yang tinggi. Kedua, seperti juga sub-sektor industri pengolahan, sub-sektor perhubungan dan pe­ngangkutan merupakan bidang kegiatan ekonomi yang mengalami perkem­bangan yang sangat pesat.
Satu aspek lain dari perubahan peranan sektor industri dalam proses pem­bangunan di negara-negara maju pada waktu yang lalu yang dianalisa Kuznets adalah perubahan peranan industri-industri dalam sub-sektor industri pengolahan. Sayang sekali negara yang d:iobservasi sangat terbatas, yaitu hanya terdiri dari dua negara (Amerika Serikat dan Swedia), sehingga gambaran yang diperoleh tidak dapat dipandang sebagai gambaran umum mengenai bentuk perubahan yang ter­jadi dalam peranan industri-industri pengolahan, dalam keseluruhan kegiatan eko­nomi dalam proses pembangunan.
Sektor yang terakhir yang dianalisa Kuznets dalam menunjukkan perubahan peranan berbagai sektor dalam menciptakan produksi nasional dan menampung tenaga kerja dalam proses pembangunan adalah sektor jasa-jasa. Sektor ini, da­lam analisanya, dibedakan menjadi lima sub-sektor, yaitu perdagangan, badan keuangan dan real estate, pemilikan rumah, pemerintahan dan pertahanan, dan berbagai jasa perseorangan (private services). Untuk menunjukkan perubahan peranan sub-sektor jasa-jasa di atas dalam menciptakan produksi sektor jasa-jasa diobservasi keadaan di lima negara, dan untuk menunjukkan perubahan pera­nan tiap-tiap sub-sektor itu dalam menampung tenaga kerja yang terdapat di sektor jasa-jasa diobservasi pula keadaan di sepuluh negara. Pokok-pokok kesimpulan dari analisa tersebut adalah seperti yang dinyatakan di bawah ini :
1. Peranan sub-sektor perdagangan dalam menciptakan produksi sektor jasa jasa dan terutama peranannya dalam menyediakan pekerjaan kepada tenaga kerja di sektor itu menjadi bertambah besar. Akan tetapi kalau peranannya ter­sebut ditinjau dari sudut sumbangannya dalam menciptakan produksi nasio­nal dan menampung tenaga kerja dalam keseluruhan perekonomian, maka coraknya adalah :
a)      pada umumnya peranan sub-sektor perdagangan dalam menciptakan produksi nasional tidak mengalami perubahan atau menurun, dan
b)      peranannya dalam menyediakan pekerjaan, dinyatakan sebagai pro­porsi dari keseluruhan tenaga kerja, meningkat
2. Peranan sub-sektor jasa jasa perseorangan dalam menciptakan produksi sector jasa-jasa maupun produksi nasional, dan dalam menampung tenaga kerja me­ngalami penurunan yang sangat besar sekali. Sebaliknya peranan sub-sektor pemerintahan dan pertahanan dalam menciptakan produksi nasional dan me­nampung tenaga kerja menunjukkan kecenderungan yang meningkat, baik apabila diukur dari sudut peranannya dalam sub-sektor jasa jasa itu sendiri maupun dalam perekonomian secara keseluruhan.
Dalam sub bab ini, dalam bahagian-bahagian yang terdahulu, telah ditunjukkan bahwa
a)      peranan sektor jasa-jasa dalam menciptakan produksi nasional tidak mengalami perubahan atau mengalami penurunan, dan
b)      peranannya dalam menyediakan kesempatan kerja menjadi bertambah besar. Perkembangan sek­tor jasa-jasa yang bercorak seperti ini dalam proses pembangunan ekonomi di­sebabkan oleh karena :
1.      adanya spesialisasi secara kawasan dari kegiatan eko­nomi yang berkembang,
2.      pertambahan pendapatan per kapita yang diakibat­kan oleh pembangunan ekonomi, dan
3.      karena perkembangan produktivitas yang lambat di sektor jasa-jasa.

Kedua-dua faktor yang pertama menyebabkan lebih banyak jenis-jenis produksi sektor jasa jasa harus disediakan oleh sesuatu perekonomian yang berkembang. Sesuatu perekonomian yang mencapai tingkat pembangunan yang lebih tinggi dengan sendirinya harus mengalami perkemba­ngan dalam kegiatan perdagangan, kegiatan badan-badan keuangan, kegiatan men­distribusikan hasil-hasil yang diproduksikan oleh sektor industri dan pertanian ke berbagai daerah dan ke luar negeri, dan kegiatan menyewakan rumah-rumah dan bangunan-bangunan. Di samping itu, proses urbanisasi yang ditirnbulkan oleh pembangunan ekonomi dan industrialisasi menyebabkan perlunya admi­nistrasi pemerintahan yang lebih luas ;yaitu untuk memberikan fasilitas-fasilitas yang lebih baik kepada masyarakat di kota-kota dan di daerah pedesaan, mau­pun untuk mengatur dan mengawasi kegiatan ekonomi yang keadaannya ber­tambah kompleks. Dan akhirnya, kenaikan dalam pendapatan per kapita akan menaikkanpermintaan masyarakat terhadap rekreasi, kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa profesionil. Yang disebutkan terakhir ini terutama adalah dalanf ben­tuk jasa jasa untuk memperbaiki barang-barang konsumsi tahan lama (durable consumer goods).
Walaupun peranan sektor jasa-jasa dalam menampung tenaga kerja yang ter­dapat dalam perekonomian meningkat, peranan sektor tersebut dalam menciptakan pendapatan nasional tidak mengalami perubahan atau menurun. Faktor yang menimbulkan keadaan ini, seperti telah dijelaskan pada bahagian yang lalu, adalah karena tingkat produktivitas di sektor jasa-jasa berkembang dengan lebih lambat daripada perkembangan tingkat produktivitas rata-rata yang terjadi da­lam keseluruhan perekonomian.\

D.    Perubahan Struktur Industri Menurut Analisa Chenery
Analisa Chenery mengenai corak perubahan struktur sektor industri dalam proses pembangunan, menggunakan data yang berbeda dengan yang digunakan oleh Kuznets. Analisa Chenery menggunakan data di berbagai negara dalam sua­tu masa tertentu, atau lebih lazim disebut data cross section; dan bukan dengan mengumpulkan data perubahan peranan berbagai sektor dalam perekonomian dari masa ke masa, seperti yang dilakukan oleh Kuznets. Aspek yang paling penting dari analisa Chenery, dan yang rnenyebabkan analisa seperti itu menjadi lebih berguna sebagai usaha untuk menunjukkan ciri-ciri dari proses pembangun­an ekonomi, adalah bahwa analisa tersebut lebih ditekankan kepada menun­jukkan `hubungan kuantitatif di antara pendapatan per kapita dengan per­sentasi sumbangan berbagai sektor ekonomi dan industri-industri dalam sub-sek­tor industri pengolahan kepada produksi nasional. Dengan demikian analisa ter­sebut dapat digunakan untuk membuat ramalan mengenai peranan berbagai sek­tor pada berbagai tingkat pembangunan ekonomi, dan selanjutnya dapat diguna­kan sebagai landasan dalam menentukan penggunaan sumber-sumber daya ke berbagai sektor ekonomi.
Aspek penting lainnya yang berbeda di antara analisa Kuznets dan Chenery adalah perbedaan penekanan analisa mereka masing-masing dalam menunjukkan corak perubahan peranan tiap-tiap sektor kepada keseluruhan kegiatan pereko­nomian dalam proses pembangunan ekonomi. Chenery lebih menekankan kepa­da analisa mengenai perkembangan dalam sub-sektor industri, sedangkan pene­kanan analisa Kuznets adalah kepada corak perubahan di sektor-sektor ekonomi yang utama. Lagipula, dalam analisa mengenai corak perubahan struktur ekono­mi dalam proses pembangunan, Chenery hanya menganalisa perubahan peranan industri-industri yang tergolong dalam sub sector industri pengolahan dalam men­ciptakan produksi nasional saja. Analisanya tidak meneliti perubahan peranan mereka dalam menampung tenaga kerja apabila perekonomian bertambah maju.
Dalam analisanya tersebut Chenery menggunakan hipotesa bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi dan peranan sesuatu sektor dalam menciptakan produksi nasional tergantung kepada tingkat pendapatan dan jumlah penduduk negara tersebut. Berdasarkan kepada hipotesanya ini, untuk menentukan fungsi per­tumbuhan (growth function) tiap-tiap kegiatan ekonomi,yaitu peranan berbagai sektor dan industri-industri dalam menciptakan produksi nasional pada berbagai tingkat pembangunan ekonomi, digunakan persamaan regresi berikut :


Rounded Rectangle: log Vi = log βi0 + βi1 log Y + βi2 log N
 

      
di mana Y dan N masing-masing adalah pendapatan per kapita dan jumlah pen­duduk. Sedangkan Vi adalah nilai tambahan (value added) per kapita yang di­ciptakan industri atau sektor i , βi1 adalah elastisitas pertumbuhan (growth elasti­city), yang nilainya dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut :
Rounded Rectangle:   

dan βi2 adalah elastisitas ukuran (size elasticity), dan nilainya ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut:


Rounded Rectangle:
 

Nilai βi0 adalah sama dengan nilai V yang diciptakan industri i atau sektor i pada waktu pendapatan per kapita nilainya adalah US$ 100 dan jumlah pendu­duk adalah 10 juta.
Untuk menentukan nilai β0, β1 dan β2  dari berbagai industri dalam sub-sek­tor industri pengolahan digunakan data mengenai penduduk, pendapatan per kapita dan sumbangan berbagai sektor industri pengolahan kepada pendapatan nasional di 38 negara, dan negara-negara itu terdiri dari negara-negara maju maupun negara-negara berke:nbang. Data tersebut adalah data di antara tahun 1950-56. Untuk menentukan nilai Ro, 01 dan 02 dari berbagai sektor, data dari 38 negara di atas dilengkapi pula dengan data di 13 negara lain. Dengan diketahui atau dapat ditentukannya nilai β0, β1 dan β2  dari berbagai sektor dan industri-industri yang tergolong dalam sub-sektor industri pengolahan. maka nilai tambahan atau produksi nasional yang diciptakan dalam suatu sektur maupun industri akan dapat dihitung dengan mudah dengan menyelesaikan per­samaan di atas.
Dengan menggunakan fungsi pertumbuhan dan analisa regresi di atas, Chene­ry menunjukkan tentang corak perubahan peranan dari berbagai sektor dan ber­bagai industri dalam sub-sektor industri pengolahan dalarn perekonomian yang inengalarni pertumbuhan. Hal tersebut dilakukannya dengan menen­tukan perubahan sumbangan berbagai sektor dalam produksi nasional apabila pendapatan per kapita naik dari US$ 100 menjadi US$ 1000; dan perubahan peranan berbagai industri pengolahan dalam keseluruhan produksi sub-sektor industri pengolahan apabila pendapatan per kapita naik dari US$ 100 menjadi US$ 600.
Mengenai perubahan peranan berbagai sektor dalam menciptakan produksi nasional dalam proses pembangunan, Chenery membuat kesimpulan berikut:
1.      Peranan sektor industri dalam menciptakan produksi nasional meningkat dari sebesar 17 persen dari produksi nasional pada tingkat pendapatan per kapita sebesar US$ 100 menjadi 38 persen pada tingkat pendapatan per kapita sebesar US$ 1.000. Khusus untuk industri pengolahan, peranannya meningkat dari menciptakan sebanyak 12 persen menjadi menciptakan sebanyak 33 persen dari produksi nasional pada proses perubahan yang dinyatakan di atas.
2.      Peranan sektor perhubungan dan pengangkutan juga akan menjadi dua kali lipat daripada peranannya pada waktu pendapatan per kapita adalah US$ 100, apabila pendapatan per kapita telah mencapai sebesar US$ 1.000. Sedang­kan peranan sektor pertanian menurun dari menyumbangkan sebanyak 45 persen kepada menyumbangkan hanya sebanyak 15 persen dari pro­duksi nasional apabila pendapatan per kapita meningkat dari sebesar US$ 100 menjadi US$ 1.000.
3.      Peranan sektor jasa-jasa tidak mengalami perubahan yang berarti, yaitu tetap mencapai di sekitar 38 persen dari produksi nasional dalam proses pening­katan pendapatan per kapita dari US$ 100 menjadi US$ 1.000. Corak perubahan struktur ekonomi seperti yang dinyatakan di atas dapat digam barkan secara grafik,yaitu seperti yang terlihat dalam Gambar 1.

Untuk menunjukkan perubahan yang terjadi dalam sub-sektor industri pe­ngolahan dalam proses pembangunan, industri-industri yang termasuk dalam golongan ini dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu industri barang-barang kon­sumsi, industri barang-barang baku dan industri barang-barang modal. Mengenai perubahan struktur sub-sektor industri pengolahan Chenery menunjukkan bah­wa pada waktu pendapatan per kapita adalah US$ 100 berbagai sub-sektor in­dustri pengolahan di atas peranannya adalah sebagai berikut: 68 persen dari produksi sub-sektor industri itu berasal dari industri barang-barang konsumsi 20 persen berasal dari industri barang-barang baku, dan 12 persen berasal dari industri barang-barang modal. Pada tingkat pendapatan per kapita sebesar US$ 600, komposisi produksi sub-sektor industri pengolahan telah menjadi se­bagai berikut: industri barang-barang konsumsi peranannya menurun dan hanya menghasilkan sebesar 43 persen dari produksi sub-sektor industri pengolahan; se­dangkan industri barang-barang modal peranannya meningkat, yaitu menghasil­kan sebesar 35 persen dari produksi sub-sektor industri pengolahan; dan peranan industri barang-barang baku tidak mengalami perubahan yang berarti.

Gambar 1.
http://www.sylabus.web44.net/pembangunanfile/kuliah7_files/image008.jpg
Dua aspek lain yang dianalisa Chenery adalah faktor-faktor yang menyebab­kan perkembangan industrialisasi yang pesat dalam pembangunan ekonomi dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya variasi atau perbedaan dalam corak industrialisasi di berbagai negara. Mengenai aspek yang pertama Chenery me­nganalisa mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pertwnbuhan yang tidak sebanding atau nonproportional growth di antara berbagai jenis industri dalam sub-sektor industri pengolahan dengan tingkat pendapatan per kapita. Kenyataan menunjukkan bahwa berbagai industri dalam sub-sektor industri pe­ngolahan mengaluni perkembangan yang lebih cepat daripada perkembangan da­lam pendapatan per kapita. Misalnya pendapatan per kapita telah berubah dari US$ 100 menjadi US$ 600 sebagai akibat dari adanya kegiatan pembangunan dalam suatu jangka waktu tertentu. Ini berarti dalam proses pembangunan itu pendapatan per kapita telah menjadi 6 kali lipat. Pada waktu yang sama, ke­nyataan yang ada menunjukkan bahwa pada umumnya perkembangan tingkat kegiatan industri-industri adalah lebih cepat daripada tingkat ini. Misalnya saja, mungkin pada waktu pendapatan per kapita adalah sebesar US$ 600 tingkat produksi sesuatu industri adalah 10 kali lipat dari tingkat produksinya pada waktu pendapatan per kapita adalah US$ 100. Jadi di antara perkembangan pendapatan per kapita dan perkembangan kegiatan industri tersebut terjadi nonproportional growth, yaitu industri tersebut berkembang dengan lebih cepat daripada tingkat perkembangan pendapatan per kapita.
Chenery mengemukakan 3 faktor yang menyebabkan perbedaan di antara lajunya perkembangan industri-industri dalam sub-sektor industri pengolahan dan perkembangan tingkat pendapatan per kapita: sebagai akibat dari adanya substitusi import, adanya perkembangan permintaan untuk barang-barang jadi (final goods) dan adanya kenaikan dalam permintaan barang-barang setengah jadi (intermediate goods). Menurut analisa Chenery usaha untuk mengadakan substitusi import merupakan faktor yang terpenting yang menyebabkan indus­trialisasi yang pesat, karena faktor ini mengakibatkan 50 persen dari pertumbu­han yang tidak sebanding yang terjadi. Pengaruh perkembangan pendapatan ter­hadap pertambahan permintaan hasil-hasil industri mengakibatkan 22 persen dari industrialisasi yang terjadi. Pertambahan pendapatan selanjutnya menyebab­kan perkembangan permintaan terhadap barang-barang setengah jadi dan fak­tor ini mengakibatkan 10 persen dari proses industrialisasi dan perbedaan ting­kat pertumbuhan yang terjadi. Faktor-faktor lainnya seperti perubahan harga, kesalahan dalam penaksiran, adanya substitusi di antara berbagai barang lain dengan hasil industri, dan adanya substitusi di antara tenaga kerja dengan hasil industri (misalnya tenaga manusia digantikan dengan obat kimia untuk mem­basmi lalang dan berbagai penggantian lainnya yang semacam itu) merupakan faktor-faktor yang menimbulkan 18 persen dari industrialisasi.
Dari gambaran di atas Chenery mengambil kesimpulan bahwa faktor terpen­ting yang menimbulkan industrialisasi adalah karena adanya substitusi import, dan bukan karena perubahan dalam komposisi permintaan sebagai akibat dari pendapatan yang bertambah. Dengan adanya pembangunan ekonomi akan ter­jadi perubahan dalam harga relatif faktor-faktor produksi dan menyebabkan substitusi barang-barang import dengan hasil-hasil industri dalam negeri dan sub­stitusi hasil-hasil industri rumah tangga dengan hasil-hasil industri pengolahan modern.
Aspek yang berikut, dan aspek yang terakhir, yang dianalisa oleh Chenery adalah mengenai faktor-faktor yang menyebabkan peranan berbagai industri da­lam sesuatu perekonomian adalah berbeda dengan peranannya yang normal pada suatu tingkat pembangunan ekonomi tertentu, yaitu seperti yang ditentukan oleh persamaan regresi yang telah dijelaskan pada permulaan dari bahagian ini. Dalam setiap negara pada umumnya peranan tiap-tiap industri dalam sub-sektor industri pengolahan adalah lebih tinggi atau lebih rendah dari tingkat yang di­tentukan oleh persamaan regresi tersebut, dan keadaan yang demikiar, diakibat­kan oleh adanya salah satu atau gabungan dari faktor-faktor berikut:
1.      Luasnya pasar.
 Tingkat pendapatan dan jumlah penduduk merupakan dua faktor penting yang menentukan luas pasar sesuatu negara. Negara-negara yang tingkat pendapatan per kapitanya sama, peranan berbagai industri da­lam perekonomian akan berbeda apabila jumlah penduduknya sangat ber­beda besarnya. Makin besar jumlah penduduk, makin besar peranan berbagai industri dalam perekonomian.

2.      Bentuk distribusi pendapatan.
Corak distribusi pendapatan di tiap-tiap negara berbeda, Di beberapa negara distribusi pendapatan penduduknya sangat tidak merata, seperti misalnya di Afrika Selatan, Kenya dan Peru di mana golongan kaya terdiri dari bangsa kulit putih yang merupakan golongan pendatang. Sebahagian besar rakyatnya, yang terdiri dari penduduk asli, taraf hidupnya sangat rendah sekali. Perbedaan dalam distribusi pendapatan ini merupakan satu faktor penting lainnya yang menyebabkan terdapatnya deviasi dalam peranan sektor industri dari peranannya yang normal.
3.      Kekayaan alam.
Kekayaan alam sesuatu negara juga dapat mempengaruhi pe­ranan industri-industri dalam sub-sektor industri pengolahan dalam keseluru­han kegiatan ekonomi. Pada umumnya dapatlah dikatakan bahwa di negara­negara yang relatif miskin dalam kekayaan alam, peranan industri-industri mereka menjadi lebih penting jika dibandingkan dengan di negara-negara yang mempunyai kekayaan alam yang lebih banyak. Sejak dari permulaan usaha pembangunannya negara-negara yang miskin dengan kekayaan alam akan menekankan usahanya pada mengembangkan sektor industri dengan tu­juan untuk mengurangi import barang-barang industri. Langkah seperti ini di­lakukan karena kekurangan kekayaan alarn menyebabkan negara itu biasanya mempunyai kemampuan yang lebih terbatas untuk mengembangkan eksport­nya.

4.      Perbedaan keadaan di berbagai negara.
Perbedaan keadaan di berbagai Negara seperti perbedaan dalam iklim, kebijaksanaan pemerintah dan faktor-faktor sosial dan budaya, merupakan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat produksi dan peranan sektor industri kepada produksi nasional. Fak­tor-faktor ini dapat menyebabkan peranan masing-masing sektor dalam per­ekonomian adalah lebih tinggi atau lebih rendah daripada peranan mereka yang normal.

E.     Perubahan Struktur Perekonomian Negara- negara Berkembang
Perhatian yang lebih besar terhadap pembangunan ekonomi negara-negara berkembang telah menimbulkan dorongan untuk melakukan usaha-usaha per­baikan dalam pengumpulan data kegiatan ekonomi di negara-negara itu. Sebagai hasil dari usaha-usaha ini, dalam beberapa tahun saja telah lebih banyak data da­pat diperoleh mengenai berbagai aspek dari kegiatan-kegiatan ekonomi negara­negara tersebut. Semakin meluasnya jumlah dan jenis data yang tersedia menge­nai kegiatan-kegiatan ekonomi di negara-negara berkembang tersebut memung­kinkan para penyelidik ekonomi untuk membuat analisa mengenai perubahan struktur kegiatan ekonomi dalam proses pembangunan yang telah terjadi di ne­gara-negara berkembang. Kuznets telah juga mempelopori penyelidikan yang demikian, dan dalam beberapa tahun akhir-akhir ini penyelidikan semacam itu banyak dilakukan oleh Chenery dalam bentuk usaha bersama dengan ahli-ahli ekonomi lain. Dalam penyelidikannya yang paling akhir sekali Chenery, de­ngan dibantu oleh Syrquin, telah menggunakan berbagai data yang menggam­barkan tentang kegiatan-kegiatan ekonomi di negara-negara berkembang untuk menunjukkan ciri-ciri perubahan struktur perekonomian negara-negara berkem­bang dalam proses pembangunan ekonomi mereka di antara tahun 1950-1970.
Analisa yang dilakukan oleh Chenery dan Syrquin tersebut mirip sekali de­ngan analisa Chenery mengenai perubahan struktur ekonomi dalam proses pem­bangunan yang telah diuraikan pada bahagian yang lalu. Tujuan dari analisa yang baru ini terutama adalah juga untuk menunjukkan bentuk-bentuk peruba­han yang terjadi dalam berbagai aspek kegiatan ekonomi apabila tingkat pem­bangunan ekonomi menjadi bertambah tinggi. Akan tetapi analisa yang baru ini jauh lebih lengkap daripada analisa Chenery yang diuraikan sebelum ini, kare­na lebih banyak data telah dapat diperoleh untuk membuat analisa tersebut. Pada keseluruhannya Chenery dan Syrquin menunjukkan corak dari sepuluh jenis perubahan dalam struktur perekonomian yang berlaku dalam proses pem­bangunan negara-negara berkembang. Perubahan-perubahan tersebut dibedakan menjadi tiga golongan,yaitu perubahan-perubahan dalam struktur ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses akumulasi, perubahan-perubahan da­lam struktur ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses alokasi sumber-sumber daya (resources), dan perubahan-perubahan dalam struktur eko­nomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses demografis dan distri­butif. Kegiatan-kegiatan ekonomi yang termasuk sebagai proses akumulasi ada­lah pembentukan modal atau investasi, pengumpulan pendapatan pemerintah, dan kegiatan menyediakan pendidikan kepada masyarakat. Yang tergolong seba­gai alokasi sumber-sumber daya adalah struktur permintaan domestik (penge­luaran-pengeluaran masyarakat atas produksi dalam negeri), struktur produksi, dan struktur perdagangan. Dalam golongan yang ketiga, yaitu proses demografis din distributif, termasuklah proses perubahan dalam faktor-faktor berikut: alo­kasi tenaga kerja dalam berbagai sektor, urbanisasi, tingkat kelahiran dan kema­tian, dan distribusi pendapatan.
Secara lengkap faktor-faktor yang dianalisa oleh Chenery dan Syrquin untuk menunjukkan perubahan-perubahan dalam struktur ekonomi dalam proses pem­bangunan, dan cara-cara yang digunakan untuk menunjukkan corak perubahan tersebut, dikemukakan dalam Tabel 3. Dan seterusnya hasil-hasil analisa Chenery dan Syrquin mengenai corak perubahan dari berbagai faktor yang terdapat dalam Tabel 3 dalam proses pembangunan ekonomi di negara-negara berkem­bang ditunjukkan dalam Tabel 4. Angka-angka dalam tabel tersebut meng­gambarkan bentuk-bentuk perubahan yang diharapkan akan terjadi dalam pe­rekonomian sesuatu negara berkembang yang mengalami proses peningkatan da­lam pendapatan per kapitanya dari sebesar US$ 100 menjadi US$ 1.000.
Dari angka-angka yang terdapat dalam Tabe1 4 dapatlah disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dialami negara-negara berkembang - yang dalam uraian ini dimaksudkan sebagai kenaikan pendapatan per kapita dari sebesar US$ 100 menjadi sebesar US$ 1.000 - ciri-cirinya adalah seperti yang dijelas­kan di bawah ini
1.      Tabungan dan pembentukan modal
Makin besar tingkat tabungan, makiin besar pula tingkat pembentukan modal.

2.      Pendapatan pemerintah
Meningkatnya pendapatan pemerintah disebabkan oleh kenaikan dalam tingkat penerimaan pemerintah dari perpajakan.

3.      Pendidikan
Dalam menggambarkan perkembangan yang dicapai dalam bidang pendidikan sepanjang proses pembangunan digunakan dua macam indikator yaitu :
a)      Besarnya pengeluaran untuk pendidikan (dinyatakan dalam persentase dari Produk Domestik Bruto) dan
b)      Banyaknya anak-anak yang berada di sekolah dasar dan menengah.



TABEL 3
Cara-cara Yang Digunakan llntuk Menunjukkan Corak Perubahan Struktur Ekonomi dalam Proses Pembangunan

FAKTOR-FAKTOR YANG DIANALISA
CARA-CARA YANG DIGUNAKAN UNTUK MENUNJUKKAN PERUBAHAN  YANG TERJADI

    I.            PROSES.AKUMULASI
1.      Pembentukan modal.
a)      Tabungan domestik bruto
b)       Pembentukan modal domestik bruto
c)      Aliran masuk modal (di luar import    barang dan jasa jasa)


Dengan melihat perubahan nilai-nilai mereka dan dinyatakan sebagai presentasi dari Produk Domestik Bruto (PDB)
2.      Pendapatan pemerintah,         
a)      Pendapatan pemerintah
b)      Pendapatan dari pajak      

3.      Pendidikan.
a)      Pengeluaran untuk pendidika
b)      Tingkat pemasukan anak-anak ke sekolah dasar dan sekolah menengah                   


a)      Dengan menunjukkan perubahan presentasi GDP yang digunakan untuk pendidikan.
b)      Dengan menunjukkan perubahan presentasi anak-anak yang bersekolah di sekolah dasar dan sekolah menengah
 II.            PROSES ALOKASI SUMBER-SUMBER DAYA
4.      Struktur permintaan domestik,
a)      Pembentukan modal domestik bruto  
b)      Konsumsi rumah tangga
c)      Konsumsi pemerintah
d)     Konsumsi atas bahan makanan

5.      Struktur produksi.
a)      Produksi sektor primer
b)      Produksi sektor industri
c)      Produksi perusahaan utilities
d)     Produksi sektor jasa-jasa


Dengan melihat perubahan nilai-nilai mereka dan dinyatakan sebagai presentasi dari Produk Domestik Bruto (GDP)




6.      Struktur perdagangan.
a)      Eksport                                         
b)      Eksport bahan mentah           
c)      Eksport barang-barang industry
d)     Import

III.            PROSES DEMOGRAFIS DAN DISTRIBUTIF                              
7.      Alokasi tenaga keria.
a)      Dalam sektor primer
b)      Dalam sektor industri                   
c)      Dalam sektor jasa jasa                  





Dengan melihat perubahan jumlah mereka dan dinyatakan sebagai persentasi dari keseluruhan jumlah tenaga kerja.
8.      Urbanisasi
Penduduk daerah urban

Dengan melihat perubahan jumlahnya dan dinyatakan sebagai presentasi dari keseluruhan jumlah penduduk.
9.      Transisi demografa.              
a)      Tingkat kelahiran
b)      Tingkat kematian           

10.  Distribusi pendapatan.
a)      Sebagian dari 20 persen penduduk      menerima pendapatan paling      tinggi  
b)      Sebagian dari 40 persen penduduk yang menerima pendapatan paling rendah                                  


Dengan melihat perubahan persentasi Produk Domestik Bruto (GNP) yang diterima tinggi oleh masing-masing golongan pendapatan tersebut.

4.      Struktur permintaan domestik
Untuk menunjukkan ciri-ciri perubahan struktur permintaan domestik digunakan empat macam proses perubahan, yaitu dalam tingkat pembentukan modal, dalam tingkat konsumsi rumah tangga, dalam tingkat konsumsi pemerintah dan dalam tingkat konsumsi bahan makanan.

5.      Struktur produksi
Gambaran mengenai struktur produksi dalam proses pembangunan yaitu peranan sektor pertanian dalam menciptakan produksi nasional menurun, peranan sektor industri bertambah tinggi, dan peranan sektor jasa juga naik.

6.      Struktur perdagangan
Peranan ekspor dalam kegiatan ekonomi nasional menjadi bertambah penting, dan peranan yang bertambah penting ini terutama disebabkan oleh bertambah pentingnya peranan ekspor barang-barang industri pengolahan dan ekspor jasa, sedangkan peran ekspor bahan mentah menurun.

7.       Penggunaan tenaga kerja
Corak perubahan persentase tenaga kerja yang digunakan di berbagai sektor dalam proses pembangunan mengalami perubahan yaitu dalam menampung tenaga kerja sektor pertanian peranannya menurun, sedang sektor industri dan sektor jasa meningkat.

8.      Urbanisasi, tingkat kelahiran dan tingkat kematian
Pembangunan ekonomi akan diikuti oleh perubahan proporsi penduduk yang tinggal di daerah urban, dan penurunan dalam tingkat kelahiran dan kematian.

9.      Distribusi pendapatan
Untuk melihat perubahan dalam distribusi pendapatan dalam proses pembangunan, diperhatikan :
a)      perubahan bagian pendapatan nasional yang diterima oleh 40 persen penduduk yang tergolong sebagai penerima pendapatan terendah; dan
b)      perubahan bagian dari pendapatan nasional yang diterima oleh 20 persen penduduk yang pendapatannya tergolong sebagai pendapatan yang paling tinggi.

Angka-angka yang diperoleh dalam analisis itu menunjukkan bahwa masyarakat yang tergolong dalam golongan penerima pendapatan yang paling tinggi akan menerima bagian (dari pendapatan nasional) yang makin bertambah banyak pada tahap-tahap permulaan proses pembangunan, sedangkan golongan masyarakat yang menerima pendapatan paling rendah akan mengalami penurunan pada tahap-tahap awal proses pembangunan.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Perubahan Struktural Ekonomi Dalam Proses Pembangunan disebabkan oleh beberapa hal yaitu sifat manusia dalam kegiatan konsumsi serta perkembangan teknologi yang ditandai oleh Sunbangan sektor pertanian kepada produksi nasinal telah menurun, Peranan sektor industri dalam menghasilkan produksi nasional meningkat dan Sumbangan sektor jasa dalam menciptakan pendapatan nasional tidak mengalami perubahan yang berarti dan perubahan itu tidak konsisten sifatnya.
Perubahan Struktur Penggunaan Tenaga Kerja ditandai oleh Peranan sektor pertanian dalam menyediakan kesempatan kerja menurun, Peranan sektor industri dalam menyediakan kesempatan kerja menjadi bertambah penting, akan tetapi kenaikan tersebut sangat kecil dan Peranan sektor jasa dalam menyediakan kesempatan kerja tidak mempunyai pengaruh besar. Pada perubahan peranan masing-masing sektor dalam menciptakan produksi nasional dengan peranan mereka dalam menampung tenaga kerja mempunyai sifat yang berbeda, yaitu : di sektor pertanian, secara relatif, perubahan yang terjadi dalam menciptakan produksi nasional adalah hampir bersamaan dengan perubahan peranannya dalam menyediakan pekerjaan, di sektor industri, perubahan relatif dari peranannya dalam menciptakan produksi nasional adalah lebih besar daripada perubahan relatif peranannya dalam menampung tenaga kerja dan di sektor jasa, perubahan relatif dari peranannya dalam menciptakan produksi nasional adalah lebih kecil dari perubahan relatif perananya dalam menampung tenaga kerja.
Adanya perubahan struktur perekonomian pada suatu Negara tentunya akan membawa dampak tersendiri, baik itu dampak positif maupun negatif mengingat sumbangan berbagai macam sector mengalami perubahan sumbangsi terhadap pemasukan suatu Negara. Oleh karena itu perlu kiranya dampak-dampak negative diperhitungkan sebelum melakukan perubahan truktur secara menyeluruh.

B.     Saran
Diharapkan kepada pembaca agar memahami isi yang terpapar pada makalah ini guna penguasaan materi nantinya. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini maka kami sebagai penyusun dengan segala kerendahan hati meminta saran ataupun kritiknya guna perbaikan pada penyusunan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

education.poztmo.com/2011/04/perubahan-struktural-ekonomi.html / tersedia dalam website google
www.sylabus.web44.net/pembangunanfile/kuliah7.html/ tersedia dalam website google


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar