.

Total Tayangan Laman

WARNINGGGG !!!!!!!!!!!!!! Jangan DiCopas (Copy Paste) Ya..Hanya Untuk Dijadikan Referensi Aja Ya Mas & Mba Broo...Awas Hindari Tu Yang Namanya Copy Paste

Digital clock

Selasa, 11 Desember 2012

FILSAFAT POSITIVISME


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tulisan ini akan mendiskripsikan dua gagasan pokok dalam filsafat Auguste Comte ( 1798 – 1857 ), yakni tentang tahap –tahap perkembangan akal budi manusia dan tentang ilmu pengetahuan positif. Setelah itu akan dievaluasi secara kritis sampai sejauh mana pengaruh filsafat ini terhadap asfek di dalam kebudayaan dan beberapa permasalahan yang ditimbulkan.

Istilah positifisme mengacu pada dua hal sebagai berikut :
a.       Pada teori pengetahuan istialah positivisme biasanya didefinisikan sebagai salah satu paham dalam filsafat barat yang hanya mengakui dan membatasi pengetahuan yang benar pada fakta –fakta positif, dan fakta tersebut harus didekati dengan pengunaan ilmu pengetahuan, yaitu eksperimentasi, obsevasi dan komparasi

Fakta positif adalah fakta yang sungguh –sungguh nyata, pasti, berguna, jelas dan langsung dapat diamati dan dibenarkan oleh setiap orang yang memepunyai kesempatan sama untuk mengamati dan menilainya.
b.      Teori tentang perkembangan sejarah ( akal budi ) manusia, istialah positivisme identik dengan tesis Comte sendiri mengenai tahap –tahap perkembangan akal budi manusia, yang secara linier bergerak dalam urutan –urutan yang tidak terputus. Perkembangan ini bergerak dari tahap mistis ke tahap metafisis dan berahair pada tahapan yang paling tinggi, yakni tahap positif.
Positivisme Logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini.

B. Rumusan Masalah

1.      Apa Pengertian Positivisme ?
2.      Apakah Positivisme Dan Postpositivisme Itu ?
3.      Bagai Mana Tahap –Tahap Perkembangan Akal Budi Manusia ?

C. Tujuan

Tujuan dibuatnya maklalah ini untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai bagai mana manusia berpikir positivisme,baik di dalam sistem pembelajaran Memberikan pemahaman tentang apa itu Positivisme, tahap-tahap perkembangan akal budi manusia, postpositivisme,dan gagasan positivisme logis
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN POSITIVISME

Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah.
Positivisme (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini.
Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham realisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.
Salah satu teori Positivisme Logis yang paling dikenal antara lain teori tentang makna yang dapat dibuktikan, yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jika pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi dari pendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalah keindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalam bidang metafisika.

1. Sejarah Muncul
Positivisme Logis menyajikan suatu fusi dari empiris yang berasal dari Hume, Mill, dan Mach, dengan logika Simbolis sebagaimana ditafsirkan oleh L. Wittgenstein. Menurut teori ini, semua kalimat yang bermakna harus bersifat analitik maupun bersifat sintetik. Kalimat-kalimat analitik itu bisa betul (tautologi) dan bisa salah ( kontradiksi ) semata-mata karena bentuk logisnya dan tidak mengandung informasi faktual. Kalimat sintetik, atau empiris,merupakan laporan tentang pengamatan indera atau pun generalisi yang didasarkan pada pengamatan empiris. Kalimat-kalimat sintetik bermakna sejauh dapat di verifikasi. Pernyataan metafisik dan teologis tidak cocok dengan kedua Kategori di atas dan di hilangkan karena pernyataan semu yang tak bermakna.
Rumusan asli ini ( dari M.schlick, R.Carnap, O.Neurath, dan lain-lain lambat laun engalami serangkaian modifikasi saat kekurangan-kekurangannya menjadi semakin jelas. Verifikasi, sebagai kriterium keberartian, secara berturut-turut dimodifikasi ke dalam Verifikasi prinsip, konfirmabilitas, dan akhirnya desakan bahwa evidensi empiris harus memainkan suatu peranan yang berarti dalam penerimaan suatu pernyataan ilmiah. Pada saat yang sama basis faktual diperluas daei pencerapan-pencerapan ke laporan laporan pengamatan, kebahasa empiris.
Positivisme dewasa ini menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen : bahasa teoritis, bahasa observational, dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observational yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sa mapi pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observational dengan kaidah-kaidah korespondensi.
Kendati positivisme logis dikembangkan sebagai suatu basis interpretatif bagi ilmu-ilmu alam, ia sudah diperluas ke ilmu-ilmu manusia. Dalam psikologi ia menemukan prtalian alami dalam behaviorisme dan operasionalisme. Dalam etika ( Ayer, Stevenson ) ia berupaya menjelaskan makna dari pernyataan-pernyataan yang menyatakan kewajiban moral sehubungan dengan konotasi emotifnya. Dalam yurisprudensi, ketentuan-ketentua dan larangan-larangan yang ditetapkan oleh komunitas dilihat sebagai basis terakhir dari hukum. Dengan demikian ditolak pandangan akan hukum kodrat atau norma-norma trans-empiris, misalnya, imperatif kategoris kant.
2. Ajaran Pokok Positivsme logis
pernyataan-pernyataan metafisik tidak bermakna. Pernyataan itu tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan tautologi yang berguna. Tidak ada cara yang mungkin untuk mentukan kebenarannya ( atau kesalahannya ) dengan mengacu pada pengalaman. Tidak ada pengalaman yang mungkin yang pernah dapat mendukung pertanyaan-pertanyaan metafisik seperti : “ Yang tiada itu sendiri tiada” ( The nothing it self nothing- Das Nichts selbst nichest, Martin Heidegger ), “ yang mutlak mengatasi Waktu”, “ allah adalah Sempurna “, ada murni tidak mempunyai ciri “, pernyataan-pernyataan metafisik adalah semu. Metafisik berisi ucapan-ucapan yang tak bermakna.
Auguste Comte ( 1798-1857 ) ia memiliki peranan yang sangat penting dalam aliran ini. Istilah “positivisme” ia populerkan. Ia menjelaskan perkembangan pemikiran manusia dalam kerangka tiga tahap. Pertama,tahap teologis. Disini , peristiwa-peristiwa dalam alam dijelaskan dengan istilah-istilah kehendak atau tingkah dewa-dewi. Kedua, tahap metafisik. Disini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan melalui hukum-hukum umum tentang alam. Dan ketiga, tahap positif. Disini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan secara ilmiah.
Upaya-upaya kaum positivis untuk mentransformasikan positivisme menjadi semacam “agama baru”,cendrung mendiskreditkan pandangan-pandangannya. Tetapi tekanan pada fakta-fakta, indentifikasi atas fakta-fakta dengan pengamatan-pengamatan indera,dan upya untuk menjelaskan hukum-hukum umum dengan induksi berdasarkan fakta,diterima dan de ngan cara berbeda-beda diperluas oleh J.S Mill ( 1806-1873 ).E.Mach (1838-1916 ), K.Pierson ( 1857-1936 ) dan P.Brdgeman ( 1882-1961 ).

Berdasarkan aspek filosofi yang mendasarinya penelitian secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua dua macam, yaitu penelitian yang berlandaskan pada aliran atau paradigma filsafat positivisme dan aliran filsafat postpositivisme. Apabila penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan akhir menemukan kebenaran, maka ukuran maupun sifat kebenaran antara kedua paradigma filsafat tersebut berbeda satu dengan yang lain. Pada aliran atau paradigma positivisme ukuran kebenarannya adalah frekwensi tinggi atau sebagian besar dan bersifat probalistik. Kalau dalam sampel benar maka kebenaran tersebut mempunyai peluang berlaku juga untuk populasi yang lebih besar. Pada filsafat postpositivisme kebenaran didasarkan pada esensi (sesuai dengan hakekat obyek) dan kebenarannya bersifat holistik. Pengertian fakta maupun data dalam filsafat positivisme dan postpossitivisme juga memiliki cakupan yang berbeda. Dalam postivisme fakta dan data terbatas pada sesuatu yang empiri sensual (teramati secara indrawi), sedangkan dalam postpositivisme selain yang empiri sensual juga mencakup apa yang ada di balik yang empiri sensual (fenomena dan nomena).
Kedua aliran filsafat tersebut mendasari bentuk penelitian yang berbeda satu dengan yang lain. Aliran positivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma kuantitatif. Sedangkan postpositivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma kualitatif. Karakteristik utama penelitian kualitatif dalam paradigma postpositivisme adalah pencarian makna di balik data. Penelitian kualitatif dalam aliran postpositivisme dibedakan menjadi dua yaitu penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi dan penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa. Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi bertujuan mencari esensi makna di balik fenomena, sedangkan dalam paradigma bahasa bertujuan mencari makna kata maupun makna kalimat serta makna tertentu yang terkandung dalam sebuah karya sastra.
1. Positivisme
Positivisme secara enomologi berasal dari kata positive, yang dalam bahasa filsafat berarti suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita. Hal ini berarti apa yang disebut dengan positif bertentangan dengan yang ada dalam angan-angan (khayalan), atau apa yang berada dalam konstruksi akal manusia. Dapat disimpulkan pengertian positivisme secara terminologis adalah suatu paham yang dalam pencarian kebenarannya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi.
Positivisme merupakan paham tentang hukum dan pengetahuan, yang hanya mengakui kebenaran hukum yang berlaku pada suatu saat dan pada suatu tempat dimana suatu kejadin terjadi. Menurut Auguste Comte, falasafah hendaknya mengenai dan berpangkal dari peristiwa-peristiwa positif. Karena positivisme berpendapat bahwa segala pengetahuan mengenai hal-hal yang mengatasi pengalaman kita adalah spekulasi belaka, dengan kata lain positivisme adalah anti metafisika. Positivisme juga bertentangan dengan rasionalisme dan idealism, namun seringkali sejalan dengan materialism, mekanisme, dan sensualisme.
Positivisme merupakan gerakan anti metafisika di dalam filsafat. Filosofi ini berakar kuat di Inggris. Akar dari Inggris adalah skeptisisme empiris dari David Hume di abad ke-18. prinsip verifikasi merupakan senjata utama dari paham ini. Mereka lebih menekankan penggunaan bahasa daripada sebuah pertanyaan. Salah satu tokoh dari paham ini adalah Ludwig Wittgenstein.
Positivisme memandang bahwa manusia dapat memiliki arti hidup. Hal ini sangat penting. Namun hidup itu sendiri tidak memiliki arti dari hal-hal yang ada. Manusia bisa memiliki keluarga, pekerjaan dan segala aktifitas yang lain, namun dibalik itu manusia memiliki lebih dari atau kurang dari itu. Paham ini juga menekankan bahwa karena bahasa tentang Allah, manusia dan kerusakkannya (keberdosaannya) tidak dapat diuji, maka itu tidak bermakna atau artinya beda dari maksud si pembicara. Hal ini menyiratkan bahwa pada dasarnya manusia tidak seperti dikatakan oleh bahasa agama – telah rusak (mengalami keberdosaan). Pernyataan ini bergantung kepada siapa yang berbicara dan siapa yang mendengarkan. Di sisi lain memahami kebenaran dan kesalahan bukan pada realitasnya, tetapi pada siapa yang berbicara dan siapa yang mendengarkan. Secara tidak langsung, paham ini mengaburkan fakta dan menonjolkan simbolisme.
Sebagai contoh: hukum, etika dan norma yang menjadi konsensus bersama di dalam masyarakat . Jika seseorang menyatakan kebenaran atau kesalahan sesuai dengan hukum, etika dan norma yang berlaku, baik secara tertulis ataupun secara lisan, hanya dipandang sebagai simbol saja. Dilakukan atau tidak dilakukan tergantung kepada siap yang berbicara dan siapa yang mendengarkan. Ini merupakan pengingkaran atas realitas hidup manusia sesungguhnya.
Kelemahan dari paham Positivisme ini adalah (1) tidak adanya objektifitas untuk menentukan hukum, etika dan norma di dalam masyarakat. (2) realitas dipandang tidak lebih dari sekadar simbol, tergantung siapa yang berbicara dan mendengarkan. (3) secara tidak langsung menolak Allah di dalam arti yang sesungguhnya, dan menerima Allah di dalam simbolisme yang berkaitan dengan sesuatu.
2. Postpositivisme
Postpositivisme lawan dari positivisme yaitu cara berpikir yg subjektif, berasumsi terhadap realitas, dan tergantung pada konteks value, kultur, tradisi, kebiasaan, dan keyakinan, natural dan lebih manusiawi.
Menurut catatan Prof.Dr. Noeng Muhadjir, penelitian kualitatif yang bertolak dari pemikiran postpositivisme memiliki empat kerangka berfikir, yaitu: (a) postpositivisme rasionalistik, (b) postpositivisme phenomenologik-interpretif, (c) postpositivisme dengan teori kritis dan weltanschauung, dan (d) pragmatisme meta-etik.
Para peneliti social yang tidak puas dengan cara kerja kelompok positivisme menamakan diri mereka kelompok peneliti kualitatif. Mereka mengacu pada perspektif fenomenologi, oleh karena itu paham postposiivisme sering juga disebut dengan paham fenomenologi. Fenomenologi menuntut pendekatan holistic, mendudukan objek peneliian dalam suatu konstruksi ganda dan melihat objek dalam koneks natural bukan parsial. Fenomenologi menggunakan tata berfikir logic lebih dari sekedar kausal linier dan bertujuan membangun ilmu idiografik.

C. TAHAP –TAHAP PERKEMBANGAN AKAL BUDI MANUSIA

1. Tahap teologis
·         Tahap paling awal dari perkembangan akal manusia.
·         Pada tahap ini manusia berusaha berusaha menerangkan segenap fakta atau kejadian dalam kaitanya dengan teka –teki alam yang dinggap misteri.
·         Manusia tidak menghayati dirinya sebagai makluk luhur dan rasioanal yang posisinya dialam berada di atas makluk –makluk lain.
·         Ia menghayati dirinya sebagai bagian dari keseluruhan alam, yang selalu diliputi oleh rahasia yang tidak terpecakan oleh pikiranya yang sederhana.

Dalam tahap teologis ini ada beberapa bentuk cara berfikir.
·         Fetyisme dan animism, dalam kedua bentuk ini kita menyaksikan bagaimana manusia mengahayati alam semesta dalam individualitas dan partikularitasnya.
·         Politeisme, cara berfikir ini lebih maju, dimana orang sudah mulai menyatukan dan mengelompokan semua benda dan kejadian kedalam konsep yang lebih umum. Pengelompokan ini berdasarkan pada kesamaan – kesamaan yang ada pada diri mereka.
·         Monotisme, cara berfikir ini tidak lagi mengakui banyak roh dari benda –benda atau kejadian –kejadian, tetapi hanya mengakui satu roh saja, yakni tuhan.

Cara berfikir membawa pengaruh besar terhadap kehidupan sosial, budaya, dan pemerintahan. Misalnya monoteisme memungkinkan berkembangnya dogma –dogma agama, yang kemudian dijadikan pedoman hidup bermasyarkat.

3. Tahap positif
·         Gejala alam tidak lagi dijelaskan dengan a priori, melaikan pada observasi, eksperimen dan komparasi yang ketat dan teliti.
·         Akal tidak tidak diarahkan untuk mencari kekuatan –kekuatan transden dibalik hakikat didalam setiap gejala dan kejadian.
·         Akal diarahakan untuk mengobservasi gejala dan kejadian secara empiris dan hati –hati untuk menemukan hukum – hukum atau sebab dari kejadian yang ada.

Hukum –hukum yang ditemukan secara demikian tidak lagi bersifat irasional dan kabur melainkan hukum – hukum itu menjadi bersifat pasti dan dapat dipertangungjawabkan.
Hukum –hukum itupun bersifat pasti dan bermanfaat, karena kalau kita mengetahui dan menguasai hukum –hukum tersebut, maka kita dapat mengontrol dan memanipulasi gejala –gejala atau kejadian –kejadian tertentu sebagai sarana untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

4. Ilmu pengetahuan positif

Beberapa asumsi ilmu pengetahuan positif
1.      Ilmu pengetahuan bersifat objektif ( bebas nilai dan netral ). Objektivitas pengetahuan berlangsung dari dua belah pihak : pihak subjek dan pihak objek.
Pihak subjek : seorang ilmuan tidak boleh dirinya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh faktor –faktor dari dalam dirinya sendiri, misal : sentiment pribadi, kepentingan – kepentingan pribadi atau kelempok, kepercayaan agama, filsafat dan apa saja yang dapat mempengaruhi objektivitas dari orang yang diobservasi.

2.      Ilmu pengetahuan hanya berhubungan dengan hal-hal yang berulang kali terjadi, Kalau misalnya pengetahuan hanya terjadi sekali saja maka pengetahuan tidak akan membantu kita untuk meramalkan memastikan hal –hal yang kan terjadi, padahal ramalan ( prediksi ) justru merupakan salah satu tujuan penting dalam pengetahuan. Karena dalam setiap penjelasan teori atau hukum sudah terkandung predeksi.
3.      Ilmu pengetahuan menyoroti setiap phenomena atau kejadian alam dari saling ketergantungan dan antarhubunnganya dengan fenomena –fenomena atau kejadian –kejadian lain.Maka perhatian para ilmuan buak diarahkan pada hakikat dari gejala –gejala atau kejadian –kejadian , melainkan pada relasi luar, khususnya sebap akaibat, anatra benda – benda, gejala –gejala, kejadian –kejadian.

Ketiga asumsi tersebut pada prinsipnya dilandasi oleh keyakinan ontologisme Comte yang bersifat naturalistic dan deterministic, yakni bahwa segenap gejala tau kejadian, tampa kecuali tunduk pada hukum alam. Hukum ini berjalan secara mekanis dan yang menentuakn bukan hanya gejala tau kejadian yang bersifat fisis atau inorganik tetapi juga gejala atau kejadian psikis dan organis.
Selain itu, Comte pun mempunyai keyakinan epistemologis dan metodelogis yang sangat kuat. Penolakan Comte terhadap cara berfikir teologis dan metafisis, serta usahanya merumuskan suatu ilmu pengetahuan positif yang bersifat objektif, ilmiah dan universal pada ahirnya membawa dia pada ilmu pasti, studi yang mendalam mengenai ilmu ini.

5. Pengaruh positivisme Auguste Comte

Menurut pengamat para ahli filsafat barat, kontribusi filsafat positivisme Comte terhadap kebudayaan barat antara lain:
·         Semakin tebalnya optemisme masyarkat barat yang sejak timbul sejak jaman Aufklarung mengenai hari depan umat manusia yang semakin lebih baik.
·         Semangat eksploratif dan ilmiah para ilmuan sedemikian rupa, sehingga mendorong lahirnya model –model ilmu pengetahuan positf, yang lepas dari muatan –muatan spekulatif.
·         Konsepsi yang semakin meluas tentang kemajuan atau medernasi yang menitikberatkan pada kemajuan medernisasi pada bidang ekonomi, fisik, dan teknologi ( model masyarakat ekonomi ).
·         Menguatakan golongan teknokrat dan industriawan dalam pemerintahan.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah.
Positivisme (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Positivisme secara enomologi berasal dari kata positive, yang dalam bahasa filsafat berarti suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita.
Positivisme merupakan paham tentang hukum dan pengetahuan, yang hanya mengakui kebenaran hukum yang berlaku pada suatu saat dan pada suatu tempat dimana suatu kejadin terjadi.
Postpositivisme lawan dari positivisme yaitu cara berpikir yg subjektif, berasumsi terhadap realitas, dan tergantung pada konteks value, kultur, tradisi, kebiasaan, dan keyakinan, natural dan lebih manusiawi.
Tahap teologis
·         Tahap paling awal dari perkembangan akal manusia.
·         Pada tahap ini manusia berusaha berusaha menerangkan segenap fakta atau kejadian dalam kaitanya dengan teka –teki alam yang dinggap misteri
Tahap positif
·         Gejala alam tidak lagi dijelaskan dengan a priori, melaikan pada observasi, eksperimen dan komparasi yang ketat dan teliti.
·         Akal tidak tidak diarahkan untuk mencari kekuatan –kekuatan transden dibalik hakikat didalam setiap gejala dan kejadian.

B. Saran

Dalam penyusunan makalah ini yang dimana kami membahas tentang “POSITIVISME”,dan penulis menggunakan sumber yang cukup mendasar  bagi judul makalah ini. Selain itu, bentuk pemaparan dan penjelasan makalah ini menggunakan metode pendeskripsian dan argumentasi bagi masalah-masalah yang dituangkan dalam makalah. Penggunaan gaya bahasa yang mudah dipahami membuat sebuah kajian baru dalam menyelesaikan suatu studi kasus.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang perlu ditambah dan diperbaiki. Untuk itu penulis mengharapkan inspirasi dari para pembaca dalam hal membantu menyempurkan makalah ini. Untuk terakhir kalinya penulis berharap agar dengan hadirnya makalah ini akan memberikan sebuah perubahan khususnya dunia pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA

Bagus Lorenz, Kamus Filsafat penerbit Gramedia Pustaka Utama http://haqiqie.wordpress.com/2007/02/27/positivis-logis/
http://athi85.blog.friendster.com/2008/12/
http://gkagloria.or.id/artikel/a12.php

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar